Aksi Mujahid 212 Suarakan Kritik Pada Pemerintah, Ini Poinnya

waktu baca 3 menit
Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI (Foto: Ist)

Parimo, gemasulawesi.comAksi Mujahid 212 yang digelar Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), Front Pembela Islam (FPI) dan sejumlah ormas-ormas Islam menyuarakan kritik kepada pemerintah.

Aksi Mujahid 212 mengkritik empat isu terkait berbagai persitiwa terkini pada masa pemerintahan Joko Widodo. Aksi dilaksanakan di Bundaran Hotel Indonesia menuju depan Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pukul 08.00 WIB, Sabtu, 28 September 2019.

“Aksi Mujahid 212 untuk selamatkan NKRI, memiliki semangat kebersamaan untuk melakukan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik,” ungkap Ketua Panitia Aksi Mujahid 212, Edy Mulyadi dikutip dari Tagar.id.

Ia melanjutkan, empat isu yang pihaknya suarakan adalah terkait tindakan aparat ketika menghadapi demonstasi mahasiswa. Sikap represif Aparat Hukum (APH) dianggap berlebihan. Karena sampai menimbulkan korban luka-luka, meninggal dan menghilang.

Kedua, terkait demonstrasi pelajar pada Rabu, 25 September 2019. Edy menilai demonstrasi pelajar merupakan sebuah fenomena yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam ekskalasi politik di dalam negeri. Apalagi, aksi tanpa komando yang berakhir ricuh.

Berbagai kondisi ini kata dia, menunjukkan negeri Indonesia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ada yang salah dalam mengelola dan mengurus negara tercinta ini.

“Ketiga, massa Aksi Mujahid 212 akan menyuarakan kerusuhan yang ada di Wamena, Papua. Sebab, kerusuhan yang terjadi telah merenggut korban jiwa dan membuat warga pendatang meninggalkan wilayah,” tuturnya.

Kemudian, keempat, asap yang diakibatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Menurutnya, pemerintah dinilai lamban dalam mengatasi karhutla. Sehingga menyebabkan ratusan ribu warga terdampak asap pekat.

Serangkaian peristiwa yang terjadi dalam waktu berdekatan itu kata Edy, tidak bisa dinilai sembarangan.

“Kami menilai pemerintah telah gagal, berkaca dari kondisi yang sedang terjadi akhir-akhir ini,” tegasnya.

Akhirnya, massa Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI secara resmi membubarkan diri dan mulai meninggalkan lokasi sekitar pukul 11.37 WIB usai berorasi dan ditutup mendengarkan doa yang dilakukan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Al Khaththath.

Lokasi aksi pun steril secara bertahap dan mobil komando meninggalkan lokasi. Tidak ketinggalan, aparat yang sejak pagi berjaga ikut membubarkan diri.

Al Khathtath kemudian mengarahkan para peserta aksi untuk Shalat Dzuhur berjamaah terlebih dulu di Masjid Istiqlal sebelum pulang. Mendengar anjuran itu, massa pun mengikuti arah mobil komando untuk melakukan Shalat Dzuhur berjamaah terlebih dulu.

Meski begitu, Jalan Medan Merdeka Barat arah Patung Kuda menuju Harmoni masih belum dibuka bagi kendaraan bermotor. Separator beton dan pagar berduri terpasang melintang di dekat gedung Kemenko Polhukam.

Secara garis besar, massa menyuarakan Presiden Joko Widodo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Mereka memandang Jokowi tak bisa dipercaya lagi karena mengeluarkan berbagai kebijakan yang merugikan masyarakat dan umat Islam pada umumnya.

Sumber: Tagar.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.