Catut Nama Pejabat Donggala, Dua Warga Sulsel Ditangkap Polisi

waktu baca 4 menit
(Foto: Press Rilis Pengungkapan Kasus Pencatutan Nama Pejabat Donggala di Mako Polda Sulteng, Kamis 22 Oktober 2020, Humas Polda Sulteng)

Berita sulawesi tengah, gemasulawesi– Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulteng melalui tim subdit cyber berhasil mengungkap kasus penipuan catut nama pejabat Inspektur Kabupaten Donggala.

“Dalam kasus penipuan catut nama pejabat, empat orang Kepala desa (Kades) di Kabupaten Donggala menjadi korban,” ungkap Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Wadirreskrimsus) Polda Sulteng Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sirajudin Ramli, SH., M.Si, di Palu, Kamis 23 Oktober 2020.

Para tersangka yang melakukan kasus penipuan ini mengaku sebagai Inspektur Inspektorat di Donggala.

Pelaku menyuruh korban untuk mentransfer uang dengan dalih dipinjam dan berjanji akan dikembalikan di kantor Inspektorat Donggala, terjadi pada akhir bulan Agustus 2020 lalu.

“Setelah kejadian itu, kemudian korban mengkonfirmasi ke Inspektur Inspektorat Donggala. Dan pihak Inspektorat merasa tidak pernah menghubungi dan meminjam uang kepada para Kepala desa itu,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, dari penipuan yang dilakukan itu keempat Kepala desa sudah melakukan transferan sebesar Rp 62 juta kepada tersangka.

Keempat Kades yang menjadi korban itu, diantaranya Kades Jono oge, Siweli, Sibado, Kecamatan Sirenja dan Kades Kola kola, Kecamatan Benawa Tengah,” jelasnya.

“Setelah itu polisi kemudian melakukan penyelidikan melalui Tim subdit Cyber Ditreskrimsus Polda Sulteng yang dipimpin Kasubdit V Kompol Moh. Jufri dengan berbekal petunjuk yang dikantongi bergerak ke Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan,” tambahnya

Hasilnya, polisi berhasil mengamankan tersangka berjumlah dua orang yakni AR (39) sebagai otak dari kasus penipuan catut nama pejabat Donggala. Dan satunya lagi berinisial A (23) berperan sebagai membantu AR, keduanya merupakan warga Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan.

Sementara, barang bukti yang berhasil di sita berupa enam buah handphone dua lembar SIM Card dan satu buah ATM Bank BNI.

Sedangkan, uang hasil kejahatan sesuai pengakuan pelaku sudah habis digunakan untuk berfoya-foya.

Kedua tersangka saat ini telah dilakukan penahanan di Rutan Polda Sulteng dan dijerat pasal 28 ayat (1) jo pasal 45.a ayat (1) UURI no. 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UURI no.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik, dengan ancaman penjara maksimal enam tahun dan atau denda maksimal Rp 1 milyar,” terangnya.

Jerat Pidana Bagi Penyebar Berita Bohong

Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”) menyatakan:

Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

Perbuatan yang diatur dalam Pasal 28 ayat (1) UU ITE merupakan salah satu perbuatan yang dilarang dalam UU ITE. UU ITE tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan “berita bohong dan menyesatkan”.

Terkait dengan rumusan Pasal 28 ayat (1) UU ITE yang menggunakan frasa “menyebarkan berita bohong”, sebenarnya terdapat ketentuan serupa dalam Pasal 390 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) walaupun dengan rumusan yang sedikit berbeda yaitu digunakannya frasa “menyiarkan kabar bohong”. Pasal 390 KUHP berbunyi sebagai berikut:

Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak menurunkan atau menaikkan harga barang dagangan, fonds atau surat berharga uang dengan menyiarkan kabar bohong, dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan.

Yang dipandang sebagai kabar bohong, tidak saja memberitahukan suatu kabar yang kosong, akan tetapi juga menceritakan secara tidak betul tentang suatu kejadian. Menurut hemat kami, penjelasan ini berlaku juga bagi Pasal 28 ayat (1) UU ITE. Suatu berita yang menceritakan secara tidak betul tentang suatu kejadian adalah termasuk juga berita bohong.

Selain itu, untuk membuktikan telah terjadi pelanggaran terhadap Pasal 28 ayat (1) UU ITE maka semua unsur dari pasal tersebut haruslah terpenuhi. Unsur-unsur tersebut yaitu:

Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak

Terkait unsur ini, perlu dicermati (unsur, ed) ’perbuatan dengan sengaja’ itu, apakah memang terkandung niat jahat dalam perbuatan itu. Apakah perbuatan itu dilakukan tanpa hak?

Sedangkan, kalau pers yang melakukannya tentu mereka punya hak. Namun, bila ada sengketa dengan pers, UU Pers (Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, ed) yang jadi acuannya.

Menyebarkan berita bohong dan menyesatkan

Karena rumusan unsur menggunakan kata “dan”, artinya kedua unsurnya harus terpenuhi untuk pemidanaan, yaitu menyebarkan berita bohong (tidak sesuai dengan hal/keadaan yang sebenarnya) dan menyesatkan (menyebabkan seseorang berpandangan pemikiran salah atau keliru).

Apabila berita bohong itu tidak menyebabkan seseorang berpandangan salah, maka menurut hemat kami tidak dapat dilakukan pemidanaan.

Yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik. Unsur yang terakhir ini mensyaratkan berita bohong dan menyesatkan itu harus mengakibatkan suatu kerugian konsumen.

Artinya, tidak dapat dilakukan pemidanaan, apabila tidak terjadi kerugian konsumen di dalam transaksi elektronik.

Orang yang melanggar ketentuan Pasal 28 ayat (1) UU ITE dapat diancam pidana berdasarkan Pasal 45A ayat (1) UU 19 tahun 2016 yaitu:

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Laporan: Aldi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.