☰
✕

Imbas Pemotongan Dana Pusat, Pemda Parimo Pasrah Tak Sanggup Bangun Irigasi

Pemda Parimo mengandalkan dana Inpres akibat APBD anjlok guna menyelamatkan jaringan irigasi dan lahan pertanian warga yang terancam kekeringan.

Parigi moutong, Gemasulawesi - Sawah-sawah di kawasan utara Parigi Moutong meratapi tanah retak akibat krisis air yang kian menghimpit kawasan tersebut. Pemerintah daerah terpaksa menyerah pada kondisi anggaran yang runtuh untuk menyelamatkan piring nasi para petani.

“APBD-nya tidak ada, karena berkurangnya dana transfer,” ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPRP Parimo, Zubair di ruang kerjanya, Parigi, beberapa waktu lalu.

Langkah darurat kini berpacu dengan tenggat waktu akhir pengajuan aplikasi Sistem Informasi Pengusulan Infrastruktur Irigasi. Pemerintah daerah menggantungkan nasib sektor pertaniannya pada kucuran dana Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025.

Baca Juga:
Pemda Parimo Pasang Standar Tinggi untuk Calon Pimpinan Perumda

Kondisi geografis wilayah utara Parimo menjadi perhatian paling kritis dalam daftar pengusulan pembenahan infrastruktur air. Pemenuhan pasokan air tanah diprioritaskan untuk mengantisipasi musibah gagal panen yang mengintai kawasan gersang tersebut.

Penanganan difokuskan pada pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah di titik-titik rawan kekeringan. Petani di Mertasari, Tada Selatan, hingga Desa Siaga sangat membutuhkan pasokan air konsisten.

Rencana pembangunan serupa juga disiapkan untuk kawasan Desa Lambanau. Lahan pertanian di wilayah ini berjuang keras bertahan hidup hanya bergantung pada curah hujan yang tak menentu.

Pihak Balai Wilayah Sungai melihat kedaruratan ini dan menyarankan pemda segera memasukkan kawasan kering ke dalam skema prioritas pusat. Pasokan air tanah menjadi satu-satunya jalan keluar logis saat ini.

Urgensi kucuran dana ini berkejaran dengan pembukaan kawasan cetak sawah baru yang belum tersentuh jaringan irigasi permukaan. Tanpa pasokan air tanah, modal dan tenaga para petani terancam terbuang sia-sia.

“Urgensinya karena kekurangan air untuk kebutuhan petani,” kata Zubair mengalaskan alasan pengajuan proyek tersebut.

Kehadiran sumur dalam dan jaringan air tanah diproyeksikan menjaga kestabilan masa tanam sepanjang tahun. Petani tidak perlu lagi menghentikan produksi saat musim kemarau panjang melanda.

Selain jaringan air tanah, pemda mengusulkan rehabilitasi Daerah Irigasi Pargimpu’u dan Korontua lanjutan. Usulan jaringan baru mencakup Daerah Irigasi Sausu Bawah, Ampibabo, dan Sigenti.

Baca Juga:
Jurang Defisit APBD Parimo Terkuak Postur Belanja Nyaris Jebol

Kebutuhan perbaikan saluran air kian membengkak setelah serangkaian bencana banjir bandang merusak infrastruktur pendukung pertanian. Bendung utama di wilayah Ongka Persatuan porak-poranda dihantam banjir hebat.

Pemerintah daerah sedang mempercepat penyusunan perencanaan teknis perbaikan bendung Ongka Persatuan. Dokumen tersebut akan segera disuntikkan ke dalam sistem usulan pusat sebelum pendaftaran ditutup.

Kabar baik berembus untuk kawasan Tilung dan Ongka Persatuan yang dipastikan mulai digarap tahun ini. Kepastian ini sedikit memberi napas segar bagi para petani setempat.

“Yang sudah fix ada tiga, yaitu JIAT di Bambalemo, Palasa dan Bolano,” ucap Zubair memberikan kepastian mengenai proyek yang dikerjakan Balai Sungai.

Ketergantungan penuh pada anggaran pusat menjadi pilihan tunggal demi mengamankan kedaulatan pangan daerah. Pemda Parimo kini berada dalam posisi menunggu restu Jakarta untuk menyelamatkan nasib para petaninya.

Bagikan: