Korupsi Dana Bencana Diancam Hukuman Mati (II)

waktu baca 4 menit
Dapat Buku Usai Mengikuti Workshop
Berbeda dengan materi sebelumnya, kali ini materi mulai difokuskan sesuai dengan materi workshop akuntabilitas penanganan .

Korupsi yang bisa mendapatkan hukuman mati berdasarkan UU Tipikor adalah koruptor dana . Itulah pembukaan materi dari Trainer . Hukuman mati itu layak diberikan kepada pelaku korupsi dana , mungkin karena disetarakan sebagai ‘penjahat kemanusiaan’.

Materi mengalir dengan lancar dipaparkan, ternyata beliau juga salah satu investigator berita terkait kegagalan peringatan dini tsunami di Sulawesi tengah beberapa waktu lalu.

Ia menggambarkan, posisi rawan korupsi itu ada pada tingkat . Apalagi, dalam masa yang selalu diperpanjang tanpa alasan yang jelas.

Saya sepakat dengan pernyataan , adalah bagian paling penting yang sering terlewatkan oleh kita pewarta ini.

Kita lebih cenderung mengawasi aliran dana paska . Itupun porsinya tidak seketat saat kita memperlakukan kasus korupsi lainnya.

Dicontohkan, pembangunan shelter yang banyak mangkrak sehingga berakibat meruginya negara. Kondisi itu tidak terlewatkan oleh , mereka tetap mengawal dari pusat bahkan terjun langsung kedaerah jika diperlukan. Dalam rangka melengkapi data dan sumber sebagai unsur penting pemberitaan.

Mencermati materi , ia juga sempat memberikan contoh OTT KPK di kementerian PUPR ternyata salah satu yang dikorupsi adalah bantuan untuk di Sulawesi tengah.

Kasus dugaan korupsi dana juga terjadi di Lombok. Dimana hasil investigasi menunjukkan kementerian agama di Lombok barat memeras dinas Pendidikan dan kontraktor terkait proyek rehabilitasi sekolah terdampak gempa.

Bahkan, rehabilitasi masjid terdampak gempapun turut di korupsi. Pesan moral apa yang ingin disampaikan oleh pemateri terkait contoh prilaku tersebut? Sedemikian rentannya dana alam ini dikorupsi.

dimata saya, adalah pemateri yang sangat serius dalam memaparkan materinya. Jarang terlihat senyum walaupun sebenarnya orangnya cukup ramah dan familiar.

Caranya menyampaikan materi mudah dimengerti, sesekali juga dilemparkannya ke forum untuk mengeluarkan pendapat maupun kendala di lapangan dalam peliputan.

Kembali ke materi workshop, saya sempat sedikit fokus pada ‘’ menurutnya fase itu sangat rumit menelusurinya.

Saya jadi teringat dengan kasus dugaan korupsi 23 titik di Kabupaten Parigi moutong yang hingga saat ini seperti terkubur oleh waktu.

Menurut trainer , memang sulit membuktikan dan menginvestigasi dugaan korupsi pada .

Ia menyarankan, sebaiknya memulai investigasi pada persoalan distribusi bantuan. Itu lebih mudah ditelusuri karena semua data pendukung yang dibutuhkan mudah ditemukan.

Hingga saat ini kata dia, belum ada kasus terkait yang tertangkap bahkan di KPK sekalipun.

Fase berikut yang dibahasnya adalah paska . Paska , menurutnya adalah fase yang paling berpotensi besar indikasi korupsinya. Karena, didalamnya mengalir dana yang sangat besar. Tidak hanya bersumber dari pemerintah. Tetapi juga melibatkan swasta didalamnya.

Sementara untuk fase pra , disana kata dia, banyak kegiatan bersifat pengadaan barang dan jasa. Tentu juga perlu pengawasan, dan menarik untuk menjadi target investigasi.

Hal menarik lainnya dalam penyaluran dana adalah, mengawasi penyaluran dana publik yang telah dikumpulkan.

Sayangnya, hingga saat ini kita belum miliki aturan yang jelas bagaimana mengaudit pengumpulan dan penyaluran dana publik. Itu tentu akan membuat jadi sulit saat kita ingin membidik terkait dana publik.

Intinya, terkait bantuan adalah hal penting untuk diawasi, karena menentukan hajat hidup orang banyak didalamnya.

Bisa jadi, akibat dikorupsi maka berakibat tidak terselamatkannya korban .

Sebenarnya, masih Panjang materi yang bisa saya tuangkan dalam tulisan. Tapi saya pikir cukup sampai disini dulu sesi tulisan yang ini. Karena masih banyak materi menarik lainnya akan saya tulis. Besok, mungkin saya masuk pada materi yang dibawakan oleh Mardiyah Chamim. Beliau adalah sosok paling energik dan Supel diantara trainer lainnya. Penampilannya juga gaul, dengan ciri khas selendang diselempang di leher dan tak lupa dengan pengikat kepalanya. Ditunggu ya, pemaparan Mardiyah Chamim yang akan saya tulis besok.

Baca Juga: Difasilitasi AJI Palu, ‘Mengintip’ Dapur Redaksi Tempo (I)

Laporan: Muhammad Irfan Mursalim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.