Praktik Prostitusi Online Anak di Makassar Terbongkar

waktu baca 3 menit
Ilustrasi Gambar

Berita Hukum, gemasulawesi – Praktik prostitusi online anak di bawah umur dalam jejaring media sosial atau online terbongkar oleh Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan, praktik prostitusi itu dilakukan dengan menjajakan korban kepada lelaki hidung belang.

Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol Komang Suartana mengatakan dalam kasus prostitusi ini pihaknya menangkap seorang wanita berinisial UK yang diduga sebagai mucikari.

UK ditangkap saat menjual ketiga korban di sebuah hotel di kota Makassar ke perusahaan pembuangan pada Selasa, 9 Agustus 2022.

“Diketahui ada dua lokasi di Hotel B dan D, Tersangka berinisial UK yang menjual atau menyiapkan perempuan di bawah umur,” ucap Kombes Pol Komang Suartana saat dikonfirmasi Kamis 11 Agustus 2022.

Komang menjelaskan, praktik prostitusi online anak di Makassar terungkap berdasarkan laporan masyarakat. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi akhirnya menemukan 3 pelajar yang menjadi korban eksploitasi sebagai pekerja seks.

Ia mengatakan, kami mengantisipasi berlanjutnya praktik prostitusi online di wilayah Sulawesi Selatan. Dan sampai saat ini terus kami kembangkan untuk menyebarluaskan informasi ke masyarakat.

Dalam kasus ini, korban adalah tiga orang anak berinisial S, Z dan S. Ketiga anak tersebut berdomisili di kota Makassar dan masih di bawah umur.

“Terkait kasus ini ada tiga korban yang berinisial S, Z dan S. Semuanya masih di bawah umur. Semua korban di sini (Makassar) berjualan atau berdagang secara online,” ujarnya.

Setelah dakwaan dikumpulkan, Komang mengatakan pelaku menjual korban kepada pelanggan melalui situs online dengan harga mulai dari Rp 600.000 hingga Rp 1 juta ke atas. Selain itu, pelaku dan korban sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ia mengungkapkan, biaya rata-rata ditetapkan antara Rp 600 hingga Rp 1 juta. Bisa di satu tempat atau korban bisa dibawa keluar. Tersangka mengaku sudah berkali-kali melakukan praktik ini.

Dalam kasus ini, korban adalah tiga orang anak berinisial S, Z dan S. Ketiga anak tersebut berdomisili di kota Makassar dan masih di bawah umur.

“Dalam kasus ini ada tiga korban berinisial S, Z dan S. Semua perempuan di bawah umur. Semua korban di sini (Makassar) menjual atau berdagang secara online,” ujarnya.

Setelah dakwaan dikumpulkan, Komang mengatakan pelaku menjual korban kepada pelanggan melalui situs online dengan harga mulai dari Rp 600.000 hingga Rp 1 juta ke atas. Selain itu, pelaku dan korban sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Baca: Sulawesi Barat Bangun Infrastruktur Perkapalan Dukung IKN

Komang mengatakan, biaya rata-rata ditetapkan Rp 600 hingga Rp 1 juta. Bisa di satu tempat atau korban bisa dibawa keluar. Tersangka mengaku sudah berkali-kali melakukan praktik ini.

Kemudian, untuk tindak lanjutnya, Komang mengaku masih melakukan penyelidikan. Jadi pelanggan korban awalnya dijual ke kalangan menengah ke bawah.

“Kalau modusnya masih dalam penyelidikan, sudah berapa lama korban melakukan hal tersebut di konten ini. Dan kami akan memberitahu Anda nanti berapa lama operasi akan berlangsung. Untuk pelanggan kelas menengah, menengah dan bawah. Itu tergantung pada harga,” ucapnya.

Pelaku UK saat ini telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Ia dijerat Pasal 78 dan 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar. (*/Ikh)

Baca: Lima Ribu Bendera Merah Putih Dibagikan Pemda Parigi Moutong

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.