Puluhan WNI Asal Sulut Jadi Korban Trafficking di Kamboja

waktu baca 3 menit
Ket Foto: WNI Sulawesi Utara yang jadi korban perdagangan Manusia di Kamboja (Foto/Humas Polda Sulawesi Utara)

, gemasulawesi – Puluhan Warga Negara Indonesia () asal (Sulut) menjadi korban atau trafficking di .

Hal tersebut dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Kombes Pol Jules Abraham Abast beberapa waktu lalu di Mapolda.

Abast menjelaskan, puluhan asal Sulut yang menjadi korban atau trafficking sebanyak 33 orang, sementara sisanya 1 orang dari Palembang.

Baca: Kapolri Pastikan Wujudkan Rasa Aman Bagi Warga Jelang Nataru

“Kabar sementara berdasarkan hasil pemeriksaan, 34 tersebut terdiri dari 33 warga serta 1 warga Palembang,” kata Abats.

Melanjutkan, saat ini semuanya sedang berada di markas kepolisian . Selain itu, Divhubinter Polri bersama Dir Reskrimum Polda telah dikirim ke agar mengetahui riwayat perjalanan mereka

“Pada awalnya mereka ini direkrut oleh satu orang berkewarganegaraan Malaysia juga diiming-imingi serta dijanjikan akan dipekerjakan dengan gaji tinggi,” papar Abast.

Baca: 1.451 Kasus Baru Covid-19, Penyumbang Terbanyak DKI Jakarta

Akan tetapi, setelah bekerja selama beberapa bulan, nyatanya mereka menerima gaji yang tidak sesuai dengan iming-iming atau tawaran sebelumnya.

Sebab tidak sesuai dengan gaji yang dijanjikan oleh perekrut, mereka lalu meminta diberhentikan oleh pihak pengelola akan tetapi tidak diperkenankan.

Selanjutnya mereka hanya ditempatkan di ruangan dan juga rumah milik pengelola.

Baca: Korban Meninggal Akibat Gempa Cianjur Capai 602 Jiwa

“Kemungkinannya mereka tidak diizinkan berhenti bekerja sebab biaya yang cukup besar pada saat mendatangkan beberapa asal ini,” ujarnya.

Sehingga mereka berusaha agar bisa menghubungi pihak KBRI di , lantas pihak KBRI berkoordinasi bersama pihak kepolisian yang ada di Phnom Penh.

Setelahnya, pihak KBRI di berkoordinasi kepolisian , Atase Kepolisian Thailand, serta Atase Pertahanan di untuk membebaskan mereka dari tersebut. Lokasi ini berjarak sekitar 7-8 jam berkendaraan dari Phnom Penh, ibu Kota .

Baca: Viral Oknum ASN di Sulawesi Utara Berbuat Arogan Terhadap Pengendara Motor

“Usai dikeluarkan dari Poipet, mereka langsung dibawa ke markas kepolisian di Phnom Penh. Melihat kondisi saat ini mereka dalam keadaan baik juga sehat,” kata Abast.
Dia juga menepis isu terkait adanya penganiayaan secara fisik terhadap para tersebut. Karena berdasarkan hasil

Menurut Dir Reskrimum Polda Kombes Pol Gani Siahaan , berdasarkan pengakuan beberapa , mereka tidak menerima penganiayaan secara fisik.

“Namun menurut mereka memang terjadi intimidasi ataupun ditakut-takuti akan dilakukan kekerasan atau lain sebagainya namun tidak mendapatkan penganiayaan secara fisik,” jelas dia.

Baca: Ulama di Sulawesi Selatan Sebut Aksi Bom Bunuh Diri Merupakan Tindakan Kufur

Sementara ini semuanyan telah berada di kepolisian yang berada di Phnom Penh. Abraham Abast menjelaskan, asesmen dilaksanakan oleh Interpol Indonesia (Divhubinter Polri), Polda serta KBRI di .

Abast menegaskan, kegiatan asesmen dilaksanakan oleh Ses NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri Brigjen Pol Amur Chandra, Atase Kepolisian di Thailand Kombes Pol Endon Nurcahyo, Atase Pertahanan di Kolonel CPM Mochamad Rizal, serta Staf KBRI di .

“Usai asesmen oleh pihak kepolisian , mereka langsung dibawa ke KBRI di , serta selanjutnya akan difasilitasi hingga kembali ke Indonesia,”terangnya. (*/NRU)

Editor: Muhammad Azmi Mursalim

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.