Ulama di Sulawesi Selatan Sebut Aksi Bom Bunuh Diri Merupakan Tindakan Kufur

waktu baca 3 menit
Ket Foto: Sekretaris MUI Provinsi Sulsel, Muammar Muhammad Bakry. (Foto/Laman website MUI Sulsel)

Sulawesi Selatan, gemasulawesi – Salah seorang ulama Sulawesi Selatan Muammar Muhammad Bakry meyebutkan aksi merupakan tindakan juga tidak sesuai dengan prinsip serta ajaran Islam.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis 15 Desember kemarin. Hal itu disampaikan Bakry terkait peristiwa di Polsek Astanaanyar, Bandung, Jawa Barat, beberwa saat yang lalu.

“Pada dasarnya, Islam mengharamkan apa pun alasannya untuk melakukan tindakan . Selain itu, dalam beberapa referensi, bahwa orang yang melakukan merupakan kegiatan kekufuran. Sehingga, matinya mati kafir,” terang Bakry.

Baca: BKKBN Sebut Ada 6 Provinsi Angka Stunting Dibawah 20 Persen

Dia menyebutkan, tidak ada pembenaran terkait aksi teror, sekalipun dalam situasi perang. Nabi Muhammad Saw juga, lanjutnya, melarang . Sebab Indonesia merupakan negara dengan kondisi aman, bukan Darul Harb ataupun negara musuh, misalkan yang dianggap oleh kelompok radikal.

“Dalam kedaan perang pun Islam, Nabi (Muhammad) Saw melarang melakukannya, apalagi saat ini kondisi negara aman. Negara kita bukan Darul Harb, Indonesia ini bukan Darul Harb,” tambahnya.

Pemimpin Pondok Pesantren Multidimensi Al-Fakhriyah itu melanjutkan pemaknaan jihad, kafir, serta tagut yang salah ditelan mentah kerap dijadikan bekal bagi oknum tertentu agar melaksanakan aksi teror. Menurutnya, salah penafsiran makna tersebut merupakan pembajakan terhadap agama.

Baca: Korban Bom Bunuh Diri di Bandung, Satu Anggota Polisi Meninggal

“Penyebutan – penyebutan itu yang sering disalahpahami beberapa kelompok tertentu. Biasanya tema-tema itu dikatakan membajak Islam ya. Sehingga, menartikan salah arti jihad itu sendiri,” jelas Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan itu.

Bila berlandas pada Al Quran maupun hadis, menurutnya, jihad adalah suatu kegiatan suci yang objek, sasaran, juga niatnya jelas.

“Sementara yang melakukan tindakan serta sama sekali tidak jelas musuhnya, targetnya pula tidak jelas, selain itu, visinya tentu telah berbeda jauh terhadap nilai-nilai jihad,” kata Bakry.

Baca: Abdul Hayat Gani Gugat Gubernur Sulawesi Selatan

Sebagaimana terorisme merupakan kejahatan yang luar biasa, lalu menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh pihak agar merangkul juga menyadarkan kembali anak bangsa yang terjerat virus ideologi radikal serta terorisme tersebut.

“Saudara kita ini yang masuk dalam Islam, mengakui dirinya orang Indonesia, tapi lalu terdoktrin dengan guru keliru, oleh bacaan juga referensi yang keliru, sehingga saya kira memang dapat disebut korban. Yang perlu kita bantu mereka agar keluar dari paham radikal seperti itu,” ungkapnya

Sementara itu, kerja sama semua komponen bangsa, termasuk juga Pemerintah serta para tokoh, untuk mencegah paham itu kian masuk ke tengah masyarakat. Harusnya, hal itu dilaksanakan secara simultan juga bottom-up serta top-down.

Baca; Polisi Identifikasi Pelaku Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar

“Top Down itu dilakukan peran Pemerintah. Sehingga, pihak penguasa ini saya kira sudah saatnya dapat melihat kembali. Misalnya, media sosial lainnya yang merupakan propaganda,” tutur Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu.

Melibatkan terhadap masyarakat juga pelibatan tokoh agama serta perlu mengisi konten-konten moderat juga keislaman yang rahmatan lil alamin. (*/NRU)

Editor: Muhammad Azmi Mursalim

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.