Parigi moutong, Gemasulawesi - Petani di Kabupaten Parigi Moutong dibayangi ancaman gagal panen akibat serangan hama beruntun jelang musim tanam 2026-2027.
Siklus hama wereng, ulat grayak, hingga tikus sawah meluas akibat penerapan sistem tanam tiga kali setahun yang tidak terputus.
"Petani harus punya kepastian saprodi sebelum musim tanam," ujar Wakil Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong Sayutin Budianto saat mendatangi Kementerian Pertanian di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Baca Juga:
Bupati Erwin Burase Temui Wamentan Ajukan Modernisasi Pertanian Parigi Moutong
Lahan pertanian yang sudah siap garap tidak boleh terbengkalai hanya karena keterlambatan distribusi bantuan pestisida dari pemerintah pusat.
Kondisi paling parah menimpa lahan produktif di Kecamatan Mepanga dan Ongkamalino. Ledakan populasi tikus di dua wilayah tersebut memicu pembengkakan biaya produksi yang mencekik modal kerja para petani lokal.
Masalah pengairan juga memperburuk sektor pertanian di daerah Songu Lara Mombangu.
Kerusakan infrastruktur irigasi Desa Palasa di Kecamatan Palasa membuat distribusi air ke sawah warga menjadi tidak lancar.
Kementerian Pertanian langsung merespons situasi darurat pangan di daerah tersebut. Lembaga negara ini meminta pemerintah daerah segera mengirimkan data rencana definitif kebutuhan kelompok kelompok tani.
Baca Juga:
Bupati Parigi Moutong Bentuk Tim Penertiban Barcode BBM Subsidi Pertanian dan Perikanan
"Untuk periode 2026-2027, kami berupaya mengantisipasi kekosongan pestisida di wilayah rawan," kata perwakilan Kementerian Pertanian Lolitha Tasik Taparan.
Pasokan logistik racun hama akan disinkronkan secara ketat melalui kerja sama dengan Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah.
Legislator daerah juga menuntut keterbukaan penuh dalam penyaluran bantuan di lapangan. Distribusi kuota obat pertanian per kecamatan wajib dibuka transparan guna mencegah penyelewengan oleh oknum spekulan.