Ritual Syukur di Desa Tovalo, Cara Bupati Erwin Jaga Daulat Pangan

Syukuran panen Desa Tovalo jadi bukti solidnya petani Parigi Moutong. Surplus 100 ribu ton beras jadi modal hadapi tantangan pangan global.

Parigi Moutong, Gemasulawesi - Warga Desa Tovalo punya cara sendiri merawat bumi, yakni dengan tidak melupakan tradisi leluhur. Pada Jumat 1 Mei 2026, mereka berkumpul melingkar dalam balutan ritus syukuran pasca-panen.

Wangi nasi baru dan doa-doa keselamatan menyeruak di tengah hamparan ladang Kecamatan Kasimbar.

"Ini adalah karunia yang harus kita jaga dan pelihara bersama-sama," ujar Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase.

Baca Juga:
59 Kontingen PAUD Meriahkan Hardiknas Parigi, Bunda PAUD: Ini Panggung Kepercayaan Diri

Lembaga adat setempat kini punya agenda tetap untuk merekatkan kembali persaudaraan antar-petani. Mereka sepakat bahwa setiap tanggal 1 Mei, alat tani harus diistirahatkan sejenak untuk bersyukur.

Bagi Erwin, syukuran ini bukan sekadar pesta makan-makan setelah lelah mencangkul. Tradisi ini dianggapnya sebagai benteng terakhir untuk menjaga kelestarian alam dari gempuran zaman.

Kabupaten Parigi Moutong memang bukan pemain kecil dalam urusan perut nasional. Tiap tahun, daerah ini konsisten mencetak surplus beras hingga angka 100 ribu ton lebih.

Capaian yang menggembirakan itu tidak datang begitu saja dari langit tanpa kerja keras. Pemerintah daerah kini mulai mengerahkan orang-orang dinas untuk lebih rajin blusukan ke sawah-sawah warga.

"Sengaja saya bawa perwakilan Dinas Pertanian agar masyarakat dapat dukungan nyata," tutur Erwin di hadapan tokoh agama.

Baginya, birokrasi jangan sampai jadi penghambat gerak maju para petani di desa terpencil.

Kehadiran para pejabat ini dimaksudkan agar bantuan teknologi dan bibit tepat sasaran. Apalagi tantangan didepan mata semakin besar dengan adanya program pasokan bahan baku dari pusat.

Baca Juga:
Cegah Banjir Susulan, Pemda Parigi Moutong Salurkan Ratusan Geobag ke Desa Moutong

Di sela pidatonya, Erwin juga menyinggung potensi kebun durian yang mulai mencuri perhatian dunia. Selama ini, buah-buah terbaik dari Kasimbar kerap diklaim sebagai produk negara tetangga, Thailand.

Kini, para pembeli dari China kabarnya ingin memangkas jalur distribusi yang panjang itu. Mereka berencana mendaratkan pesawat di Palu hanya demi mencicipi daging durian langsung dari pohonnya.

Peluang ekonomi ini tentu menjadi angin segar bagi pundi-pundi kesejahtraan masyarakat pedesaan. Namun, bupati mengingatkan agar jangan sampai nafsu mengejar rupiah merusak tatanan alam yang sudah ada.

Tanpa kesadaran menjaga lingkungan, hasil pertanian hanya akan menjadi kenangan bagi generasi mendatang. Mari kita rawat kebersamaan ini agar lumbung pangan kita tetap penuh hingga bertahun-tahun kedepan.

Bagikan: