Parigi moutong, Gemasulawesi - Nyawa warga Parigi Moutong melayang sia sia. Kelalaian administrasi rujukan medis memicu kemarahan parlemen karena buruknya fasilitas pelayanan kesehatan lokal.
Bupati dinilai mengabaikan jeritan rakyat. "Bupati seharusnya mendengar langsung keluhan warga," kata Anggota DPRD Arifin Daeng Palalo, beberapa waktu lalu.
Mobil pengangkut jenazah mogok kehabisan bensin. Tragedi kemanusiaan di wilayah Pasir Putih ini membuktikan manajemen kedaruratan medis berada dalam kondisi lampu merah.
Baca Juga:
DPRD Parigi Moutong Desak Transparansi Dana CSR Perusahaan Swasta Saat Ruang Fiskal Menyusut
Kualitas Rumah Sakit Moutong sangat memprihatinkan. Pasien darurat terpaksa dikirim ke Rumah Sakit Umum Daerah Anuntaloko yang jaraknya sangat jauh dari pemukiman warga.
Akses transportasi publik rusak parah tergerus air. Jalan raya wilayah Motong hancur dan area pemakaman umum kerap tergenang luapan sungai sehingga menyulitkan pemakaman.
Pemerintah daerah diminta segera membenahi fasilitas dasar. "Peristiwa fatal seperti ini tidak boleh terulang lagi karena pelayanan kesehatan adalah prioritas utama," tegas Arifin.
Sektor pertambangan emas skala besar disorot tajam. Aktivitas pengerukan kekayaan bumi belum memberikan kontribusi optimal bagi pendapatan asli daerah Parigi Moutong.
Baca Juga:
PAD Parigi Moutong Tembus 106 Persen Saat Total Pendapatan Anggaran 2025 Meleset dari Target
Kerusakan lingkungan parah mulai mengancam pemukiman. Eksploitasi komoditas tambang dituding menjadi penyebab utama rusaknya infrastruktur jalan dan luapan air sungai.
Pajak daerah dinilai mencekik para pelaku usaha. Petugas agresif mendatangi pedagang mikro yang baru merintis roda ekonomi tanpa melakukan sosialisasi regulasi.
Parlemen berjanji mengawal tuntutan perbaikan layanan. "Kami mendesak evaluasi total terhadap kinerja dinas kesehatan serta instansi terkait," pungkas wakil rakyat itu.