Parigi moutong, Gemasulawesi - Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong memperketat pengawasan kesehatan ibu hamil melalui penerapan standar baru pemeriksaan kehamilan minimal enam kali. Kewajiban pemeriksaan berkala bertujuan memantau kondisi kesehatan janin secara intensif sekaligus menekan angka kematian bayi yang masih menembus angka 70 kasus di wilayah tersebut.
Langkah taktis memerlukan komitmen bersama demi menyelamatkan generasi masa depan. "Pendekatan jemput bola harus terus dilakukan agar kondisi kesehatan ibu dan janin dapat terpantau sejak dini," ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Parigi Moutong, Zulfinasran, beberapa waktu lalu.
Standar pemeriksaan kehamilan terpadu mengacu pada regulasi terbaru Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Aturan menetapkan distribusi kunjungan mencakup dua kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga.
Baca Juga:
Atasi Krisis Dokter, Bupati Erwin Burase Amankan Kuota Kuliah Kedokteran di UNG
Pemeriksaan awal mendeteksi potensi komplikasi sejak dini. Dokter wajib melakukan skrining faktor risiko dan pemeriksaan ultrasonografi atau USG pada kunjungan pertama sebelum usia kehamilan memasuki minggu ke-12.
Tenaga medis memantau tumbuh kembang janin secara konsisten pada fase berikutnya. Bidan atau dokter memeriksa tekanan darah, mengukur lingkar lengan atas, serta memantau denyut jantung janin demi mencegah risiko anemia dan stunting.
Fase akhir kehamilan membutuhkan perhatian ekstra dari tim medis. Ibu hamil menjalani pemeriksaan dokter kembali pada kunjungan kelima di trimester ketiga untuk menyusun rencana persalinan aman di fasilitas pelayanan kesehatan.
Baca Juga:
Pembangunan Sekolah Rakyat Parigi Moutong Dimulai, Kementerian PU Nyatakan Lahan Jonokalora Layak
Koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program penyelamatan ibu dan anak. Keterlibatan aktif dari kader posyandu, pemerintah desa, hingga organisasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam melakukan pendampingan intensif bagi setiap ibu hamil.
Seluruh elemen masyarakat harus bergerak bersama dalam mengoptimalkan layanan kesehatan dasar. "Dengan kolaborasi yang kuat, kita optimistis dapat menekan angka kematian ibu dan bayi," kata Zulfinasran di akhir arahannya.