Parigi Moutong, gemasulawesi - Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mencatat keberhasilan besar dalam menekan angka kemiskinan ekstrem secara signifikan selama tiga tahun terakhir.
Berdasarkan penjelasan dari Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda), angka kemiskinan ekstrem yang sebelumnya berada di angka 6,2 persen kini turun drastis menjadi hanya 1,3 persen pada tahun 2024.
Capaian ini merupakan hasil dari kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak yang berkomitmen menjalankan program-program pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan.
Keberhasilan ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren penurunan kemiskinan secara umum di Parigi Moutong selama lima tahun terakhir.
Pada tahun 2020, angka kemiskinan tercatat sebesar 17 persen, kemudian menurun menjadi 14,6 persen pada tahun 2023, dan kembali turun menjadi 14,2 persen pada tahun 2024.
Penurunan kemiskinan ekstrem sebesar 4,9 persen dalam kurun waktu tiga tahun juga menjadi indikator kuat bahwa strategi pengentasan yang diterapkan cukup efektif dalam menjangkau kelompok paling rentan di masyarakat.
“Tiga tahun terakhir angka kemiskinan ekstrem Kabupaten Parigi Moutong di angka 6,2 persen, dengan kerja keras semua pihak angka itu dapat ditekan lebih rendah,” jelas Kepala Bappelitbangda Parigi Moutong, Irwan, pada Kamis, 23 Januari 2025.
Meski begitu, Pemkab menyadari bahwa tantangan dalam pengentasan kemiskinan tidaklah sederhana. Kompleksitas penyebab kemiskinan, mulai dari faktor ekonomi, sosial, budaya, hingga politik, menuntut penanganan yang cepat dan tepat.
Oleh karena itu, pemerintah daerah terus mengembangkan strategi simultan yang menyasar akar permasalahan kemiskinan, agar intervensi yang dilakukan tidak bersifat temporer, melainkan memberi dampak jangka panjang.
Salah satu bentuk intervensi yang diterapkan adalah bantuan bahan pokok kepada masyarakat kategori paling miskin. Menurut Irwan, langkah ini dapat menjadi stimulus agar kelompok tersebut dapat kembali berdaya dan mampu mandiri secara ekonomi.
Upaya ini diharapkan bisa menumbuhkan ketahanan ekonomi rumah tangga dan mengurangi ketergantungan pada bantuan pemerintah secara terus-menerus.
"Penanggulangan yang dapat dilakukan terhadap kategori yang paling miskin dapat diintervensi melalui bantuan bahan pokok sebagai bentuk stimulus supaya bisa berdaya dan mampu mandiri secara ekonomi," ujarnya.
Lebih lanjut, Irwan menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak bisa hanya bergantung pada program nasional seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial.
Pemkab Parigi Moutong juga menggagas program-program lokal yang lebih menyentuh langsung kebutuhan masyarakat serta melibatkan kerja sama lintas sektor guna memperluas jangkauan penerima manfaat.
Tantangan berikutnya, kata Irwan, adalah menjaga capaian angka kemiskinan ekstrem agar tidak kembali meningkat. Untuk itu, langkah pemberdayaan yang terpadu perlu terus diperkuat, terutama bagi masyarakat yang telah lepas dari garis kemiskinan.