☰
✕

Bukan Cuma Kurang Gizi, Parigi Moutong Bongkar Bahaya HP dan Nikah Dini Pemicu Stunting

Parigi Moutong resmi luncurkan GENTING 2026 untuk selesaikan stunting, soroti bahaya gawai dan pernikahan dini pada anak.

Parigi moutong, Gemasulawesi - Ancaman kemerosotan kualitas generasi muda di Parigi Moutong kini tidak cuma bersumber dari piring makan yang kosong. Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid membeberkan fakta mengkhawatirkan soal pola pengasuhan anak yang makin terdistorsi oleh paparan gawai dan pernikahan dini.

"Pengawasan orang tua terhadap penggunaan perangkat digital oleh anak harus diperkuat agar tidak mengganggu pola pendidikan maupun perkembangan mereka," ujar Abdul Sahid saat membuka Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.

Isu stunting di wilayah ini sudah memasuki fase krusial. Masalah mendasar tidak lagi sebatas ketiadaan bantuan pangan atau asupan gizi semata.

Baca Juga:
Kejari Ikut Jaga Dapur Makan Gratis Anak Sekolah, Dinas Ketahanan Pangan Parigi Moutong Buka Suara

Kondisi lingkungan sosial masyarakat memegang peranan sangat dominan. Kesiapan mental keluarga dalam mengasuh anak menjadi benteng utama yang kini rapuh.

Pemerintah daerah mengidentifikasi maraknya perkawinan usia anak sebagai pemicu ketidaksiapan pola asuh. Orang tua muda kerap gagap memenuhi kebutuhan fisik maupun emosional buah hati.

Di sisi lain, ketergantungan gawai pada anak kecil makin memperburuk tumbuh kembang. Lingkungan rumah yang terabaikan ikut memperbesar risiko gangguan kesehatan jangka panjang.

Ancaman Sanitasi Buruk dan Pengasuhan Digital

Intervensi fisik tetap menjadi perhatian mendesak di lapangan. Akses air bersih dan sanitasi layak di desa-desa masih menghadapi keterbatasan serius.

Edukasi perilaku hidup bersih terus digencorkan petugas kesehatan. Sanitasi yang buruk terbukti menghambat penyerapan nutrisi pada tubuh anak secara optimal.

"Dukungan kepada keluarga sasaran harus mencakup aspek kesehatan, sanitasi, air bersih, hingga pemenuhan kebutuhan dasar," kata Sahid.

Pihaknya menuntut program ini tidak cuma berhenti pada seremoni atau pembagian sembako instan. Pendampingan berkelanjutan wajib dilakukan langsung ke rumah-rumah warga.

Baca Juga:
Demi Tampung Ribuan Anak, Cetak Biru Sekolah Rakyat Parigi Moutong Alami Perombakan

Pemantauan Posyandu dan Peran Petugas Lapangan

Pemantauan tumbuh kembang anak kini dipusatkan kembali di posyandu secara ketat. Deteksi dini potensi stunting menjadi prioritas utama para kader kesehatan.

Ibu hamil dan ibu menyusui mendapatkan porsi perhatian khusus. Pemahaman mengenai gizi seimbang dan ASI eksklusif terus dipasok setiap minggu.

Petugas lapangan memegang kendali penuh dalam evaluasi kondisi riil warga. Laporan berkala dari tiap kecamatan menjadi penentu arah kebijakan bantuan selanjutnya.

Pemerintah daerah menegaskan pencegahan stunting erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi. Penanganan terpadu menjadi satu-satunya jalan keluar demi menyelamatkan masa depan anak-anak di Parigi Moutong.

Bagikan: