☰
✕

Belajar dari Bencana Avolua Parimo, Begini Cara Cepat Tangani Korban Banjir Bandang Lumpuh Total

Belajar dari bencana banjir bandang Desa Avolua Parimo pada 26 Agustus 2026, sinergi gotong royong dan bantuan pangan cepat jadi kunci pemulihan warga.

Parigi moutong, Gemasulawesi - Tragedi banjir bandang sering meninggalkan trauma mendalam sekaligus pelajaran penting tentang pentingnya ketangguhan warga. Ancaman air bah mendadak kerap melumpuhkan total aktivitas dapur rumah tangga dalam sekejap.

“Langkah darurat harus berfokus pada pemenuhan logistik dasar warga,” kata Anggota DPRD Parimo Abdin saat meninjau penanganan dampak banjir di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, beberapa waktu lalu.

Pengalaman pahit warga Avolua menunjukkan betapa krusialnya kecepatan distribusi bantuan pangan pascabencana. Peralatan memasak yang terbawa arus membuat pemenuhan nutrisi menjadi tantangan paling berat.

Kerusakan fisik akibat air bah pekat membutuhkan penanganan berlanjut. Gotong royong dari berbagai elemen masyarakat menjadi modal utama pemulihan lingkungan.

Baca Juga:
Nasib Gaji PPPK Menggantung, Parigi Moutong Tak Berani Hapus Alokasi APBD

Abdin memberikan contoh nyata pentingnya keterlibatan langsung dalam fase pemulihan lokasi bencana. Ia turun berkubang lumpur bersama tim relawan penanggulangan daerah.

Penyaluran ratusan porsi makanan siap saji dan air bersih menjadi penambal prioritas warga. Langkah ini meminimalkan risiko krisis kesehatan pascabencana di kawasan terdampak.

Aksi pembersihan sisa material banjir di pemukiman warga merupakan bagian penting dalam proses pemulihan. Gotong royong ini mempercepat kembalinya fungsi hunian masyarakat secara layak.

“Dalam situasi bencana, hal paling penting adalah kebersamaan membangun kepedulian,” tutur Abdin.

Dukungan tokoh lokal seperti Rafik Al Amri makin memperkuat jaring pengaman sosial warga. Sinergi ini mempercepat proses penanganan dampak musibah di lapangan.

Pola penanganan darurat ini diharapkan menjadi standar respons cepat di wilayah rawan bencana. Warga terdampak tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri melintasi masa sulit.

Fenomena banjir mendadak yang dipicu intensitas hujan tinggi menjadi ancaman nyata kawasan pesisir dan lereng. Kesiapsiagaan dini hari menjadi kunci penting meminimalkan korban jiwa.

Data BPBD Parimo mencatat 68 kepala keluarga merasakan dampak langsung musibah banjir Avolua. Belasan keluarga terpaksa mengungsi akibat rumah tinggal terendam lumpur.

Kerusakan belasan unit rumah menjadi catatan penting perbaikan infrastruktur pemukiman ke depan. Penataan drainase dan kawasan resapan air mendesak diperhatikan secara serius.

Baca Juga:
Ketua DPRD Parimo Temukan SDK Terpencil Singgonitu Terisolasi Tanpa Listrik dan Air

Sinergi antara pemerintah daerah, anggota legislatif, dan masyarakat harus terus terjaga konsisten. Pemulihan jangka panjang memerlukan komitmen bersama agar warga kembali bangkit.

“Kami berharap bantuan ini meringankan beban saudara kita yang kesulitan,” ujar Abdin.

Penataan pemukiman rawan banjir butuh evaluasi menyeluruh dari pihak berwenang. Upaya pemulihan tidak boleh berhenti saat genangan air surut.

“Kondisi lingkungan harus segera dipulihkan agar masyarakat kembali beraktivitas normal,” tegas Abdin.

Bagikan: