Pembangunan Gedung Perpustakaan Parigi Moutong Milik Kontraktor Stanley Terancam Putus Kontrak

Ket Foto: Stanley dan proyek gedung perpustakaan di Parigi moutong Source: (Foto/Dok Pribadi/gemasulawesi)

Parigi Moutong, gemasulawesi - Pembangunan gedung perpustakaan bernilai puluhan miliar yang dikerjakan kontraktor bernama Stanley di Kabupaten Parigi moutong terancam putus kontrak karena dinilai lambat dan progres pekerjaannya melenceng dari perencanaan.

Menurut PPK Proyek Pembangunan gedung Perpustakaan Parigi moutong, Sakti Lasimpala pada sejumlah media saat konfrensi pers di ruang kerjanya, Jum’at 28 November 2025 mengatakan, pihak pelaksana agar memperhatikan pekerjaannya dan tetap mengacu pada perencanaan yang ada.

“Jangan mencari alasan atau pembenaran untuk bergeser dari perencanaan yang ada. Perencanaan sudah punya perhitungan sendiri, kontraktor tugasnya mengerjakan itu. Intinya tidak boleh ada perubahan,” tegas Sakti.

Baca Juga:
Janggal, Kejati Sulteng Belum Tetapkan Tersangka Dalam Kasus Dugaan Gratifikasi 500 Juta Tiga Proyek Jalan di Parigi Moutong

CV Arawan selaku pelaksana proyek jika mengambil kesimpulan berbeda dengan perencanaan yang ada menurutnya sudah terlalu jauh mencampuri urusan yang bukan menjadi tanggungjawabnya.

Selain permasalah tersebut, CV Arawan juga dinilai lambat dalam hal progress pekerjaan sementara batas waktu pelaksanaan hanya sampai 14 Desember 2025.

“Hampir dipastikan terlambat, sudah memasuki minggu ke-27 progres pembangunan gedung perpustakaan baru ini baru mencapai 80 persen minus enam persen dari target 86 persen,” ungkapnya.

Sakti menilai, dengan minus enam persen itu potensi deviasi negative akan tetap terjadi, selaku PPK dia menganggap pekerjaan berada dalam zona rawan tidak mencapai target sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak.

Baca Juga:
Nama Wagub Sulteng Terseret Dugaan Kasus Makelar Proyek RSUD Undata Palu, Renny Lamadjido: Saya Tegaskan Itu Tidak Benar

Menurutnya, selaku pengendali dirinya sudah memperingatkan pelaksana proyek untuk fokus dan memperhatikan tenggang waktu yang semakin mepet.

“Mungkin mereka berpikir gampang ada addendum atau perpanjangan waktu juga bisa diminta, sebagai PPK saya tidak berani mengambil resiko perpanjangan jika progress pekerjaan seperti ini, minus enam persen itu cukup jauh,” paparnya.

Permasalahan lain juga muncul berkaitan dengan pemasangan kaca yang menurutnya tidak sesuai dengan desain awal bangunan.

Parahnya kata dia, pihak kontraktor berupaya mengubah spesifikasi kaca pabrikan menjadi one way, padahal sejak awal pelaksana yakin dengan desain bangunan yang ada sebagai rujukannya.

Baca Juga:
Kades Tabrak Aturan, Terbitkan Surat Bercap Tetapkan Pungutan 10 Juta Rupiah Per Unit Alat Berat di PETI Sipayo

“Aneh saja, kondisi ini, tidak seperti apa yang direncanakan. Sementara gedung ini, salah satu gedung di Indonesia yang uniknya di (kaca) itu. Bahkan, tim asisten pusat menyetujui dan mengapresiasi keunikan tersebut,” urainya.

 Ia menegaskan, tidak ada toleransi terkait itu. Sejak awal, pihaknya sangat keras terhadap persoalan itu, sehingga tidak ada ruang yang akan diberikan, karena telah beberapa kali diingatkan.

“Setelah nanti kami berikan SCM dua dan dievaluasi minggu depan tidak ada peningkatan progres, kami akan SCM tiga, hingga terancam kami putus kontrak,” terangnya.

Selain persoalan nilai estetik gedung, perubahan spesifikasi kaca juga dikhawatirkan akan mempengaruhi daya tahan. Sebab, dari sisi harga berbeda dengan spesifikasi pabrikan.

Berdasarkan laporan pihak pelaksana, terjadi selisih harga sebesar Rp100 juta lebih, jika spesifikasi kaca diubah. Sehingga, harus dilakukan perubahan analisis hingga kontrak dalam waktu yang tidak lagi memungkinkan.

“Saya sudah mengkonfirmasi tim perencananya, tim pengawas dan tim teknisnya, bahwa saya tidak akan memberikan ruang untuk itu, karena saya fokus dengan desain awal dan analisasi yang telah disepakati empat bulan lalu,” katanya.

Sakti menilai, jika hari ini terjadi sejumlah permasalahan, artinya pihak pelaksana tidak melakukan analisasi sejak awal, dan terkesan hanya ingin mendapat proyek saja.

“Menurut mereka kalau itu (kaca one way) lebih mudah pengerjaannya. Tapi kan menurut saya, bukan soal itu. Ini sudah didesain, sudah ada analisasnya dan saat melakukan penawaran mereka sudah mengetahuinya. Kalau saat ini menjadi masalah, berarti ada apa?” imbuhnya.

Berdasarkan informasi diperoleh pihaknya, kaca belum dipesan pihak pelaksana yang hanya ada di Surabaya.

Sementara itu Stanley selaku kontraktor gedung perpustakaan baru di KAbupaten Parigi moutong saat dikonfirmasi Jum’at 28 November 2025 via WA menuding ada kesalahan teknis dalam perencanaan sehingga pihaknya belum melakukan pemesanan kaca.

“Desain awal itu menurut saya potensi membahayakannya sangat besar, desain tebal kaca 16 mm ukuran 2x2 meter tanpa bingkai kancingan potensi robohnya sangat tinggi jika terjadi gempa,” kilahnya.

Lucunya Stanley saat dikonfirmasi mengaku mau memasang dengan desain awal dengan syarat ada yang mau bertanggung jawab bertanda tangan hitam diatas putih karena tidak ingin menanggung resiko akibat perencanaan yang menurutnya ada deviasi kesalahan.

Padahal diketahui penawaran saat mengikuti tender dilakukan berdasarkan perencanaan yang ada. Tapi anehnya, seiring pekerjaan berjalan pihak Stanley sebagai pemenang tender dikemudian hari menilai perencanaan yang ada memiliki devisiasi kesalahan sehingga berupaya untuk merubah spesifikasi desain perencanaan.

Berkaitan dengan kaca Stanley mengakui, jika pihaknya sudah mengkonsultasikan Ini dengan konsultan dan pengawas, dan itu disetujui tapi ditolak oleh Sakti selaku PPK.

“Soal kaca saya tidak permasalahkan kami bisa pasang sesuai permintaan, tapi persoalan SCM (Show Cause Meeting) ini kok sudah diberikan sebelum surat peringatan 1 hingga 3 dilayangkan,” paparnya.

Selain persoalan tersebut, dalam klarifikasinya saat dikonfirmasi Stanley menyebut salah satu alasan keterlambatan pekerjaan karena perpindahan lokasi dan memulai pekerjaan awal pembersihan Lokasi menggunakan uang pribadi.

“Persoalan pencairan sejak titik 50 persen hingga ke titik 75 persen kami dipersulit, dana talangan kami sudah keluar hingga Rp2 miliar. Kami sampai bersurat ke Bupati, Wabup hingga kejaksaan untuk meminta persetujuan pencairan dari pihak perpustakaan,” ungkap stanley.

Walaupun terjadi devisiasi tujuh persen, Stanley tetap yakin bisa menyelesaikan pekerjaan dengan deadline 14 Desember 2025.

“Kami juga sebenarnya minta tambahan 10 hari dari 14 desember 2025,” pungkasnya. (fan)

Bagikan: