Internasional, gemasulawesi – UNRWA menyampaikan anak-anak di Jalur Gaza merupakan sekitar separuh populasi dan kehidupan anak-anak tersebut diwarnai oleh perang dan kehancuran.
Dalam sebuah postingan di X, UNRWA menyatakan anak-anak menghabiskan waktu di luar kelas, terpaksa berulang kali meninggalkan rumah mereka, dan hampir tidak memiliki apapun untuk dimakan.
UNRWA juga mencatat ada 1 juta anak di Jalur Gaza.
Lebih lanjut, badan itu menekankan perlunya gencatan senjata yang mendesak di Jalur Gaza.
Baca Juga:
3 Warga Palestina Tewas dalam Pengeboman yang Dilakukan Penjajah Israel di Daerah al-Mawasi
Mereka menekankan perdamaian sangat penting, dan tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk masa depan yang lebih penting bagi seluruh wilayah.
Menurut laporan HAM, anak-anak bersama dengan wanita adalah yang paling terdampak genosida yang hingga kini masih berlangsung yang telah meluluhlantakkan sebagian besar infrastruktur dan kehidupan sehari-hari di Jalur Gaza.
Untuk tahun kedua berturut-turut, anak-anak di Jalur Gaza ditolak kesempatannya untuk bersekolah karena pasukan penjajah Israel telah menghancurkan sebagian besar lembaga pendidikan.
Yang tersisa telah dialihfungsikan sebagai tempat penampungan bagi keluarga-keluarga pengungsi.
Baca Juga:
Rumah Warga Palestina di Kota Sebastia Barat Laut Nablus Diserang Penjajah Israel
Di sisi lain, CAIR atau Dewan Hubungan Amerika-Islam mengecam pembunuhan warga Palestina di Jalur Gaza sementara serangan penjajah Israel terus berlanjut dan Benjamin Netanyahu mengunjungi Washington.
Dalam sebuah pernyataan, CAIR menyampaikan di dunia yang waras, pembantaian hampir 80 warga Palestina tak berdaya oleh pemerintah penjajah Israel dalam 1 hari menggunakan senjata Amerika Serikat akan menjadi beritas besar dan anggota Kongres akan memperlakukan Netanyahu seperti Hannibal Lecter.
“Sebaliknya, mesin pembunuh harian penjajah Israel mayoritas diabaikan sementara Netanyahu, yang merupakan seorang penjahat perang yang dicari yang berkeliaran bebas di Capitol Hill,” ujar mereka.
Pemerintah penjajah Israel berusaha membantai sebanyak mungkin warga Palestina selama diskusi gencatan senjata berlangsung kemudian menempatkan mereka yang tersisa di kamp konsentrasi modern untuk dididik ulang dan dideportasi. (*/Mey)