Rabi Ekstremis Penjajah Israel Dilaporkan Pimpin Penyerbuan ke Masjid Al Aqsa

Ket. Foto: Rabi Ekstremis Penjajah Israel Memimpin Penyerbuan ke Masjid Al Aqsa Source: (Foto/Instagram/@unrwa)

Internasional, gemasulawesi – Rabi ekstremis penjajah Israel, Yehuda Glick, pada hari Kamis, tanggal 6 Maret 2025 waktu setempat, memimpin penyerbuan Masjid Al Aqsa oleh para penjajah Israel.

Sumber-sumber lokal menyampaikan puluhan penjajah Israel menyerbu Bab al-Maghariba secara berkelompok dipimpin oleh Glick di tengah perlindungan ketat dari polisi penjajah Israel.

Para penjajah Israel melakukan tur provokatif di halaman Masjid Al Aqsa dan melakukan ritual talmud di wilayah timur.

Meeka juga mendengarkan penjelasan tentang apa yang diduga sebagai kuil tersebut.

Baca Juga:
Penjajah Israel Menutup Pintu Masuk Utama ke Desa Marah Rabah di Selatan Betlehem

Pasukan penjajah Israel memberlakukan tindakan ketat di sekitar masjid dan Kota Tua, menargetkan warga Yerusalem dengan serangan dan menghalangi pergerakan mereka.

Di sisi lain, mantan komandan tank Eyal Zamir telah dilantik sebagai panglima baru penjajah Israel di tengah meningkatnya ketidakpastian atas berakhirnya gencatan senjata di Jalur Gaza.

Sebelumnya, Zamir menjabat sebagai direktur kementerian pertahanan. Pria berusia 59 tahun itu menggantikan Letnan Jenderal Herzi Halevi yang mengundurkan diri pada bulan Januari 2025.

Pada upacara pelantikannya di markas militer di Tel Aviv, dia menyatakan dia siap menghadapi tantangan yang akan datang seraya mencatat bahwa meskipun Hamas memang telah mengalami pukulan berat, Hamas belum dikalahkan. Misinya belum tercapai.

Baca Juga:
4 Warga Palestina Terluka dalam Serangan Penjajah Israel di Ramallah Tepi Barat

“Penjajah Israel bertekad untuk meraih kemenangan dalam perangnya,” ujar Benjamin Netanyahu berbicara di hadapan Zamir.

Pertempuran di Jalur Gaza telah dihentikan sejak Januari di bawah fase pertama gencatan senjata bertingkat yang ditengahi oleh Mesir dan Qatar serta didukung oleh Amerika Serikat yang telah memungkinkan pertukaran 33 tawanan penjajah Israel dan 5 tawanan Thailand dengan sekitar 2.000 tahanan dan tahanan Palestina.

Tetapi beberapa menteri penjajah Israel telah memperingatkan bahwa pasukan mereka dapat melanjutkan pertempuran jika tidak ada kesepakatan untuk membawa kembali 59 tawanan yang masih ada.

Pasukan penjajah Israel telah mundur dari beberapa posisi mereka di Jalur Gaza tetapi pembicaraan yang dimaksudkan untuk menyepakati fase kedua gencatan senjata yang akan membebaskan tawanan yang masih hidup dan penarikan penuh pasukan penjajah Israel sebelum perang berakhir belum dimulai. (*/Mey)

Bagikan: