Lautan Merah Hitam Padati Kawasan Patung Kuda Gambir! Ribuan Buruh Gelar Demo Tolak Kebijakan Tapera, Ini 5 Tuntutan yang Disampaikan

Ribuan buruh berkumpul di Istana Negara, gelar unjuk rasa untuk menolak program Tapera yang dianggap memberatkan pekerja.
Ribuan buruh berkumpul di Istana Negara, gelar unjuk rasa untuk menolak program Tapera yang dianggap memberatkan pekerja. Source: Foto/Tangkap layar Youtube Kompas.com

 

Nasional, gemasulawesi - Demo buruh menolak Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) berlangsung di kawasan patung kuda Gambir, Jakarta Pusat, dan dipimpin oleh Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). 

Dalam aksinya, ribuan buruh dari berbagai daerah seperti Jabodetabek turut serta, termasuk organisasi seperti KSPI, KSPSI, KPBI, SPI, dan PERCAYA.

Demo yang digelar hari ini, Kamis, 6 Juni 2024 tersebut menolak konsep Tapera, sebuah program yang mengharuskan peserta untuk menyisihkan sebagian gajinya secara berkala untuk tabungan perumahan. 

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah menyetujui program ini melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2020. 

Baca Juga:
Keluhan Warga Terhadap Layanan Bank BRI dan Bank BSI Ramai Disuarakan, dari Lambatnya Pelayanan CS hingga M-Banking yang Sering Eror

Namun, menurut Said Iqbal, konsep ini memberatkan pekerja karena tidak menjamin kepemilikan rumah meski sudah menyisihkan dana selama bertahun-tahun.

"Secara akal sehat dan perhitungan matematis yang jelas, iuran Tapera sebesar 3 persen itu tidak akan cukup bagi para buruh untuk membeli rumah saat mencapai usia pensiun atau ketika menghadapi PHK," tegasnya.

Selain menolak Tapera, demo ini juga mengusung lima tuntutan lainnya, yaitu:

1.Menolak Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dianggap mahal dan menghambat akses pendidikan tinggi bagi anak-anak buruh.

Baca Juga:
Memanas! Anggota DPR RI Anita Jacoba Gah Bentak Nadiem Makarim yang Usul Tambahan Anggaran, Kritik Keras Kinerja Kemendikbud di Lapangan

2.Menolak Kamar Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan karena dinilai merugikan kualitas layanan kesehatan.

3.Menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja karena potensinya melegalkan eksploitasi terhadap buruh.

4.Menuntut penghapusan outsourcing yang tidak memberikan kepastian kerja.

5.Menolak upah murah.

Said Iqbal menyatakan bahwa UU Cipta Kerja memiliki dampak negatif terhadap buruh. 

Baca Juga:
Padam Total! Sejumlah Wilayah di Sumatera Bagian Selatan Alami Mati Lampu Serentak Sejak 2 Hari Terakhir, Begini Penjelasan Resmi PLN

Seperti upah murah, pesangon rendah, mudahnya pemutusan hubungan kerja (PHK), jam kerja fleksibel, dan hilangnya beberapa sanksi pidana. Hal ini membuat kondisi buruh semakin sulit.

Demo ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak progresif dalam memperhatikan kepentingan buruh. 

Selain menolak Tapera yang dianggap merugikan, buruh juga mengkritisi kebijakan lainnya yang dinilai tidak mendukung kesejahteraan pekerja, seperti UU Cipta Kerja, UKT yang mahal, KRIS BPJS Kesehatan, dan praktik outsourcing yang tidak memberikan kepastian kerja.

Pemerintah diharapkan untuk mendengarkan aspirasi buruh dan mempertimbangkan ulang kebijakan-kebijakan yang dinilai merugikan pekerja. 

Baca Juga:
Arus Lebaran Lancar, Menhub Sebut Salah Satu Faktor yang Mendukung Adalah Program Mudik Gratis

Demo ini juga menjadi panggung untuk menggalang dukungan dan kesadaran masyarakat akan isu-isu kesejahteraan pekerja yang masih menjadi perhatian utama dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia. (*/Shofia)

 

...

Artikel Terkait

wave
Penunjukan Sejumlah Petinggi Gerindra di Tim Gugus Tugas Sinkronisasi, Demokrat Yakin Telah Dibicarakan Prabowo dengan Ketum Parpol KIM

Demokrat yakin penunjukan sejumlah petinggi Partai Gerindra di tim sinkronisasi telah dibicarakan Prabowo dengan ketua parpol di KIM.

Diduga Efek Sound System dari Para Pendemo, Barang Jualan di Warung Depan Pemkab Banyuwangi Jatuh Berserakan

Barang dagangan milik warung di depan Pemkab Banyuwangi berserakan, diduga akibat suara sound system yang diputar selama aksi demo dilakukan

Tolak Kebijakan Bupati Terkait Larangan Battle Sound dan Karnaval, Aliansi Paguyuban Sound Banyuwangi Gelar Demo di Depan Kantor Pemkab

Aliansi Paguyuban Sound mengadakan aksi di depan Kantor Pemkab Banyuwangi, meminta agar kegiatan Battle Sound dan karnaval kembali diadakan.

Tak Bisa Berbuat Banyak, Kemenkes Hanya Bisa Prihatin dengan Nasib 249 Nakes yang Dipecat Bupati Manggarai Usai Demo Tuntut Kenaikan Gaji

Terkait pemecatan 249 nakes oleh Bupati Manggarai gegara demo tuntut kenaikan gaji, Kemenkes hanya bisa prihatin.

Akui Sepakat dengan Pernyataan Jangan Ganggu, Demokrat Nilai Prabowo Akan Terbuka Jika Ada yang Memiliki Gagasan Besar untuk Bangsa

Partai Demokrat menilai Prabowo Subianto akan terbuka jika ada yang memiliki gagasan besar untuk bangsa Indonesia.

Berita Terkini

wave

Dugaan Skandal Bisnis Solar Ilegal Seret Nama Kasatreskrim Parigi Moutong

Nama Kasatreskrim Parigi moutong, Anugerah Tarigan terseret dalam pusaran isu dugaan bisnis solar ilegal.

Berebut Dana Pusat, Kabid SD Ingatkan Masalah Hibah Tanah Hambat Perbaikan Sekolah di Parimo

Ratusan sekolah di Parigi Moutong terancam gagal revitalisasi akibat sengketa lahan. Disdikbud minta kepsek percepat urus dokumen hibah.

Parigi Moutong dan Minahasa Tenggara Rancang Koalisi Pertanian, Fokus ke Inovasi Bibit dan Durian

Wakil Bupati Minahasa Tenggara pimpin rombongan kunker ke Parigi Moutong guna pelajari inovasi pusat bibit dan pengembangan sektor pertanian

Jason Statham Kembali dengan Film Thriller Penuh Aksi Lainnya, Mutiny! Berikut Sinopsisnya

Jason Statham akan kembali dengan film laga thriller baru berjdulu Mutiny, penuh dengan adegan aksi yang mendebarkan

Dugaan Skandal Tambang PT Pantas Indomining Pagimana: "Mafia Koordinat" dan Mandulnya Penegakan Hukum

Beroperasi sejak tahun 2012 sebagai pemegang IUP tidak menjamin PT Pantas Indomining tidak melanggar aturan mengelola lahan di luar konsesi.


See All
; ;