Tuai Kecaman! Sopir Ambulans RSUD AM Djoen Sintang yang Turunkan Jenazah di SPBU Buka Suara, Bantah Tuduhan Pungli dengan Bukti Ini

Sopir ambulans di Sintang meminta maaf atas kejadian menurunkan jenazah bayi dan keluarganya di SPBU. Source: Foto/Instagram @rsud_ade_m_djoen

Nasional, gemasulawesi - Setelah insiden penurunan jenazah dari ambulans RSUD Ade Muhammad Djoen (RSUD AM Djoen) Sintang menjadi perbincangan viral di media sosial, Suhardi, sopir ambulans yang terlibat langsung dalam kejadian tersebut, akhirnya buka suara.

Sopir ambulans RSUD AM Djoen Sintang itu menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi pada malam yang seharusnya bukan merupakan waktunya untuk bertugas.

Namun Suhardi mengambil alih tugas tersebut untuk menggantikan rekan kerjanya dalam mengantar jenazah bayi yang meninggal di RSUD AM Djoen Sintang ke rumahnya. 

Akan tetapi apa yang seharusnya menjadi tugas kemanusiaan dan pelayanan medis yang sensitif, berubah menjadi peristiwa yang menyedihkan akibat adanya ketidakpahaman terkait biaya tambahan.

Baca Juga:
Viral! Pria Ini Diduga Jadi Korban Pungli Sopir Ambulans RSUD Ade Muhammad Djoen, Jenazah Keluarganya Mendadak Diturunkan di Tengah Jalan

Suhardi menjelaskan bahwa ambulans yang ia kendarai menggunakan jenis bahan bakar Dexlite, yang memiliki harga lebih tinggi dibandingkan biaya bahan bakar ambulans yang ditanggung oleh pemerintah daerah. 

Saat itu, Suhardi meminta keluarga pasien untuk membayar selisih biaya bahan bakar sebesar Rp 5.400.

Keluarga pun menolak dan menunjukkan bukti pembayaran administrasi yang telah dilakukan di kasir RSUD sebelumnya.

"Nah, perbedaan harga bahan bakar tadi yang saya minta dari keluarga pasien, ternyata keluarga pasien menunjukkan surat yang menunjukkan sudah dibayar di kasir," jelas Suhardi.

Baca Juga:
Hanya Tinggal Berdua, Begini Kronologi Penemuan Pasutri Lansia Tak Bernyawa di Bogor, Ditemukan Berdampingan dalam Kamar Rumahnya

Ketika ketidaksepahaman terkait biaya tambahan ini tidak terselesaikan, terjadi cekcok verbal antara Suhardi dan keluarga pasien di lokasi SPBU Tugu Beji. 

Karena situasi yang memanas, Suhardi kemudian mengambil keputusan untuk menurunkan jenazah bayi di SPBU dan mengoordinasikan penggantian ambulans dengan yang menggunakan biaya bahan bakar standar sesuai peraturan daerah.

Insiden ini kemudian menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan banyak pihak mengutuk tindakan Suhardi yang dianggap tidak berperikemanusiaan dan tidak sensitif terhadap kondisi emosional keluarga yang sedang berduka. 

Reaksi masyarakat pun sangat keras, menuntut tindakan tegas dan penegakan etika yang lebih baik dalam pelayanan medis.

Baca Juga:
Terkait Evaluasi Pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang, KPU Gorontalo Terima Kunjungan Kerja Komisi I Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Provinsi

Menyikapi respons publik yang luas, Direktur RSUD AM Djoen Sintang, Ridwan Pane, segera memberikan pernyataan resmi untuk menegaskan komitmen pihak rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 

Ridwan Pane menegaskan bahwa setiap petugas di RSUD harus menjalankan tugasnya dengan penuh profesionalisme, empati, dan tanggung jawab.

"Kami juga memastikan bahwa setiap petugas melakukan pekerjaannya dengan profesional dan bertanggung jawab," tegasnya.

Sementara itu, Suhardi sendiri merasa menyesal atas insiden yang terjadi dan mengungkapkan penyesalannya kepada keluarga pasien atas ketidaknyamanan dan penderitaan tambahan yang mereka alami. 

Baca Juga:
Tingkatkan Kapasitas dan Kualitas SDM, 30 Pelaku UMKM di Buol Dilaporkan Mengikuti Pelatihan Kewirausahaan

Dia menyampaikan permohonan maaf yang tulus dan berjanji untuk mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini, guna memastikan bahwa situasi serupa tidak akan terulang di masa depan.

Klarifikasi dan penjelasan dari Suhardi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada masyarakat mengenai latar belakang dan dinamika kejadian yang terjadi. 

Ini juga menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait dalam menangani situasi-situasi kritis dalam pelayanan medis, di mana sensitivitas, empati, dan profesionalisme harus selalu menjadi prioritas utama. (*/Shofia)

Bagikan:

Artikel Terkait

Berita Terkini