Bogor, gemasulawesi - Pasangan suami istri lanjut usia, Hans D. C. Tomasoa dan Rita Tomasoa-Wattimena, ditemukan tewas di rumah mereka di Bogor.
Kabar ditemukannya pasutri lanjut usia di Bogor yang meninggal dalam kondisi membusuk ini pun masih menjadi perbincangan hangat.
Diketahui pasangan lansia itu hanya tinggal berdua di Perumahan Citra Indah Bukit Raflesia, Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kronologi lengkap penemuan kedua jenazah pasutri lanjut usia ini akhirnya terungkap usai diunggah oleh salah satu jemaat di Facebook.
Peristiwa tragis ini bermula pada Jumat malam hingga Sabtu pagi, saat Ketua RT setempat berusaha menghubungi anak-anak almarhum tetapi tidak mendapat tanggapan.
Pintu rumah pasangan lansia tersebut tertutup rapat, dan para tetangga sudah lama tidak melihat Opa Hans keluar rumah.
Pada Sabtu pagi, 13 Juli 2024, beberapa Pnt/Dkn dari SP3 berkunjung ke rumah Opa dan Oma untuk mengajak mereka mengikuti perjamuan kudus serta menyampaikan niat baik untuk mengadakan kerja bakti membersihkan rumah menjelang ibadah keluarga yang dijadwalkan pada Rabu, 17 Juli 2024.
Namun, ketika mereka tiba di rumah, pintu terkunci dan tidak ada jawaban meski sudah diketuk berkali-kali.
Akhirnya, bersama RT/RW setempat, diputuskan untuk membongkar pintu rumah karena anak-anak almarhum tetap tidak merespons dan sudah tercium bau tidak sedap dari dalam rumah.
Setelah pintu depan rumah dibongkar, mereka segera menuju kamar dan menemukan Opa dan Oma telah meninggal dunia.
Menurut tim visum dari Polsek dan RSUD, Oma dan Opa telah meninggal sekitar 4-5 hari yang lalu, tepatnya pada Selasa atau Rabu, 9 atau 10 Juli 2024.
Diketahui bahwa Oma yang menderita sakit struk meninggal lebih dahulu, disusul oleh Opa yang meninggal beberapa saat kemudian.
Pihak gereja mengungkapkan bahwa mereka sudah sering menghubungi anak-anak almarhum sebelumnya, baik saat kunjungan, perjamuan kudus di rumah, maupun kerja bakti.
Bahkan, warga dan presbiter SP3 sering bergantian mengantarkan makanan untuk Opa dan Oma, sebelum akhirnya tetangga yang memasakkan makanan bagi mereka.
Biasanya, Opa akan menghubungi gereja jika memerlukan sesuatu, namun kali ini tidak ada telepon.
Ketiga anak almarhum pun jarang berkunjung atau mengajak orang tua mereka tinggal bersama.
Meskipun jemaat gereja telah berusaha sebaik mungkin dalam memperhatikan dan menjaga Opa dan Oma, termasuk membersihkan rumah mereka, kejadian ini tetap menjadi pelajaran bagi semua pihak, khususnya di Cipeucang.
Opa Hans adalah mantan pelaut, sementara Oma Rita pernah bekerja di RRI. Meski memiliki latar belakang yang luar biasa, ketiga anak mereka tampak tidak peduli terhadap kondisi orang tua mereka.
Jemaat yang mengetahui jelas kronologi ini pun sebenarnya juga mengetahui detail permasalahan sang anak dengan kedua almarhum.
Namun menurutnya hal ini tidak bisa dijelaskan detail karena sudah masuk ranah privasi keluarga.
Jemaat gereja hanya bisa prihatin dan menggelengkan kepala ketika mencoba menghubungi anak-anak tersebut untuk memperhatikan orang tua mereka.
Seluruh biaya visum, peti, dan pemakaman ditanggung oleh Jemaat GPIB Cipeucang.
Pemakaman Opa Hans dan Oma Rita dilaksanakan pada Sabtu, 13 Juli 2024, dan dipimpin oleh Pdt. (Em.) J. M. Tambunan.
Meskipun peristiwa ini sangat menyedihkan, seluruh jemaat gereja dan Pnt/Dkn SP3 berusaha memberikan yang terbaik untuk pasangan lansia tersebut.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli dan perhatian terhadap orang tua serta orang-orang di sekitar kita yang memerlukan bantuan. (*/Shofia)