Internasional, gemasulawesi – Pasukan penjajah Israel menahan 12 warga Palestina dari Kota Hebron pada hari Kamis, tanggal 13 Maret 2025 waktu setempat, sebagian besar dari mereka adalah tahanan yang dibebaskan.
Sumber keamanan melaporkan kepada media bahwa pasukan penjajah Israel menyerbu beberapa lingkungan di Hebron dan menahan 11 mantan tahanan.
Penahanan dilakukan setelah penggerebekan dan penggeledahan rumah mereka serta penyiksaan terhadap mereka.
“Pasukan penjajah Israel ini menahan pemuda lain setelah menyerbu dan menggeledah rumahnya,” kata sumber yang sama.
Baca Juga:
Sekelompok Penjajah Israel Menyerbu Situs Arkeologi yang Terletak di Pinggiran Barat Daya Artah
Pasukan penjajah Israel telah melakukan kampanye penangkapan besar-besaran di Kota Hebron untuk hari keempat berturut-turut. Mayoritas dari mereka adalah tahanan yang dibebaskan.
Di sisi lain, Juru Bicara Hamas, Hazem Qassem, menyambut baik keputusan Presiden Donald Trump yang tampaknya mundur dari usulannya untuk memindahkan secara permanen lebih dari 2 juta warga Palestina dari Jalur Gaza.
Pernyataan pejabat Hamas itu muncul setelah Trump menyamapaikan bahwa tidak ada yang mengusir warga Palestina dari Jalur Gaza dalam menanggapi pertanyaan selama pertemuan di Gedung Putih dengan Taoiseach Micheal Martin dari Irlandia.
Dalam pernyataan itu dia mengatakan jika pernyataan Presiden AS Donald Trump menunjukkan kemunduran dari gagasan menggusur warga Jalur Gaza, maka pernyataan itu disambut baik.
Baca Juga:
Tentara Penjajah Israel Menghancurkan Infrastruktur di Kota Qabatiya Selatan Jenin
Dia menambahkan pihaknya menyerukan agar posisi ini diperkuat dengan mewajibkan pendudukan penjajah Israel untuk melaksanakan semua ketentuan perjanjian gencatan senjata.
Donald Trump mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh Timur Tengah dan sekitarnya bulan lalu ketika dia mengusulkan pengambilalihan Jalur Gaza oleh AS dan mengusulkan agar penduduk Palestina di wilayah yang dilanda perang itu dipindahkan secara permanen untuk tinggal di negara-negara tetangga.
Pembalikan sikap Donald Trump terjadi setelah Menteri Luar Negeri Arab bertemu di Qatar dengan utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, untuk membahas rekonstruksi Jalur Gaza. (*/Mey)