Internasional, gemasulawesi – Bulan Sabit Merah Palestina mengumumkan pada hari Minggu, tanggal 23 Maret 2025 waktu setempat, bahwa beberapa paramedisnya terluka oleh tembakan penjajah Israel saat dikepung oleh pasukan penjajah Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan.
Dalam pernyataan singkatnya, Bulan Sabit Merah Palestina mengonfirmasi bahwa pasukan penjajah Israel mengepung beberapa ambulansnya saat mereka menanggapi serangan di daerah Al-Hashaheen, Rafah.
Pernyataan itu juga mencatat bahwa beberapa petugas medis terluka selama penyerangan tersebut dan komunikasi dengan tim terputus.
Paramedis masih terkepung dan tidak dapat dihubungi tanpa ada informasi paling baru yang diberikan hingga beberapa jam yang lalu.
Baca Juga:
Seorang Pemimpin Senior Hamas Tewas dalam Serangan di Khan Younis saat Beribadah
Di sisi lain, Vicky Cohen, yang putranya, Nimrod, ditawan di Jalur Gaza, telah menyatakan rasa frustasinya terhadap prioritas perang pemerintah penjajah Israel dengan menyatakan pemerintah lebih fokus pada menyingkirkan Hamas dan mengejar agenda politik dalam negeri daripada memulangkan para korban penculikan.
“Negara telah kembali berperang tetapi tidak berperang untuknya, melainkan berperang untuk hal-hal lain,” ujarnya.
Dia menambahkan pemerintah telah menyerah pada mereka (para tawanan).
“Bagi mereka, kembali bertempur adalah tentang membalas dendam kepada Hamas dan menggulingkan Hamas,” ucapnya.
Baca Juga:
Tentara Penjajah Israel Perintahkan Evakuasi Penuh Lingkungan Tal Al-Sultan di Rafah
Dia mengatakan selama setahun mereka belum berhasil menggulingkan Hamas.
“Bagaimana mereka akan berhasil sekarang?” tanyanya.
Di sisi lain, militer penjajah Israel menyebutkan mereka telah mencegat rudal di luar wilayah penjajah Israel jadi tidak ada bahaya bagi penduduk Tel Aviv dan wilayah Yerusalem yang lebih luas.
Tetapi ini sangat merusak karena ini berbicara tentang jantung ekonomi penjajah Israel dan gangguan di Bandara Ben Gurion, bandara utama di penjajah Israel.
Dampak ekonomi dari hal ini cukup tinggi dan orang penjajah Israel mengira hal ini telah berakhir ketika gencatan senjata di Lebanon dan Jalur Gaza dicapai.
Sekarang mereka kembali ke rutinitas di mana mereka harus memperhatikan peringatan untuk menuju tempat perlindungan terdekat guna berlindung saat alarm berbunyi karena meskipun rudal tidak menimbulkan dampak, tetap ada ketakutan akan pecahan peluru. (*/Mey)