Soroti Ketua KPK di Dalam Jajaran Komite Pengawasan Danantara, Said Didu: Seharusnya Penegak Hukum Tidak Masuk

Tangkap layar video yang menampilkan pegiat media sosial, Said Didu ketika menyampaikan penjelasan
Tangkap layar video yang menampilkan pegiat media sosial, Said Didu ketika menyampaikan penjelasan Source: (Foto/YouTube/@MANUSIA MERDEKA MSD)

Nasional, gemasulawesi - Pegiat media sosial, Said Didu, baru-baru ini menyoroti struktur kepengurusan dalam organisasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.

Sorotan tersebut muncul setelah beredarnya informasi bahwa beberapa pimpinan lembaga penegak hukum dan pengawasan negara ikut masuk dalam komite pengawasan Danantara.

Dalam struktur tersebut, diketahui terdapat nama-nama penting seperti Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kapolri, hingga Jaksa Agung.

Masuknya para pimpinan lembaga penegak hukum ke dalam struktur organisasi ini memicu kekhawatiran dari publik, khususnya para pengguna media sosial.

Baca Juga:
Dorong Pemerintah Indonesia Lawan Kebijakan Tarif Impor Amerika Serikat, Adi Prayitno: Kita Bangsa Strong

Beberapa warganet menyuarakan kekhawatiran mereka di platform X (sebelumnya Twitter), terutama terkait potensi konflik kepentingan apabila terjadi penyelewengan atau tindakan korupsi di tubuh Danantara.

Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin institusi penegak hukum bisa bersikap netral jika para pimpinannya justru merupakan bagian dari organisasi yang seharusnya mereka awasi.

Menanggapi kegelisahan tersebut, Said Didu memberikan pandangan kritisnya melalui unggahan di akun X resminya @msaid_didu pada Sabtu, 5 April 2025.

Dalam cuitannya, Said menegaskan bahwa berdasarkan prinsip Good Corporate Governance (GCG), aparat dan pimpinan penegak hukum tidak seharusnya duduk di dalam struktur organisasi seperti Danantara.

Baca Juga:
Kuasa Hukum Korban Yakin Oknum TNI AL Lakukan Pembunuhan Berencana Terhadap Jurnalis Kalsel, Begini Alasannya

Menurutnya, keterlibatan mereka justru berpotensi menciptakan ruang abu-abu dalam penegakan hukum dan pengawasan keuangan negara.

“Kalau paham dan mau melaksanakan GCG yg baik maka seharusnya semua aparat dan pimpinan penegak hukum (Polisi, Jaksa, KPK) dan pemeriksa/auditor (BPK dan BPKP) tidak masuk ke DANANTARA,” tulis Said dalam cuitannya sambil mengunggah ulang pernyataan salah satu warganet yang juga menyuarakan kekhawatiran serupa.

Pendapat Said ini menegaskan perlunya pembatasan peran dan posisi lembaga negara agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi yang merugikan transparansi dan akuntabilitas publik.

Reaksi warganet terhadap kondisi ini pun cukup beragam, namun sebagian besar menunjukkan nada waspada. Salah satu tanggapan datang dari akun @bac*** yang menyoroti risiko besar jika penegak hukum berada dalam satu lingkaran dengan objek yang semestinya mereka awasi.

Baca Juga:
Denny Siregar Nilai Hidayat Nur Wahid Cuma Cari Muka usai Minta Presiden Tetapkan 3 April Sebagai Hari NKRI

Ia menulis, “Kalau ketua KPK terlibat di DANANTARA LALU SIAPA YANG TERIAK KORUPSI SIAPA YANG MENGADILI SIAPA.”

Ungkapan tersebut menyiratkan kekhawatiran mendalam bahwa posisi yang tumpang tindih tersebut dapat mereduksi efektivitas lembaga-lembaga penegak hukum dalam menindak pelanggaran, terutama korupsi. (*/Risco)

...

Artikel Terkait

wave

Dorong Pemerintah Indonesia Lawan Kebijakan Tarif Impor Amerika Serikat, Adi Prayitno: Kita Bangsa Strong

Pengamat Adi Prayitno menilai pemerintah Indonesia perlu membalas kebijakan tarif impor yang diterapkan Amerika Serikat

Kuasa Hukum Korban Yakin Oknum TNI AL Lakukan Pembunuhan Berencana Terhadap Jurnalis Kalsel, Begini Alasannya

Kuasa hukum korban pembunuhan terhadap jurnalis wanita di Banjarbaru yakin tersangka oknum TNI AL melakukan pembunuhan berencana

Denny Siregar Nilai Hidayat Nur Wahid Cuma Cari Muka usai Minta Presiden Tetapkan 3 April Sebagai Hari NKRI

Denny Siregar menilai Hidayat Nur Wahid hanya cari muka ketika meminta Presiden tetapkan 3 April sebagai hari NKRI

Eks Stafsus Bantah Narasi Kemenkeu RI Tak Pernah Lapor Penggunaan Uang Hasil Pajak, Sebut Realisasi APBN Selalu Dirilis

Eks stafsus Menteri keuangan RI, Yustinus Prastowo bantah narasi Kemenkeu tidak menyampaikan penggunaan uang hasil pajak

Kader NasDem Tak Ada yang Masuk Kabinet Merah Putih, Surya Paloh Sebut Partainya Tahu Diri dan Punya Budaya Malu

Ketua Partai NasDem, Surya Paloh menjelaskan alasan mengapa tidak ada satu pun kader partainya yang berada di dalam kabinet Merah Putih

Berita Terkini

wave

Strategi Bupati Parigi Moutong Atasi Anggaran Terbatas, Fokus Jalan dan Sekolah Rakyat

Bupati Parigi Moutong perketat anggaran. Fokus pembangunan infrastruktur dasar, ekonomi desa, dan percepatan program Sekolah Rakyat.

Ketua Komisi II DPRD Parigi Moutong Janjikan Alat Pertanian Modern di Toribulu

Ketua Komisi II DPRD Parigi Moutong Ahmad Dg. Mabela janji kawal anggaran mesin pemanen dan perahu nelayan dalam reses di Desa Toribulu.

Jembatan di Bolano Lambunu Putus Diterjang Banjir, 28 KK Terisolasi

Banjir akibat hujan deras di Desa Bukit Makmur, Parigi Moutong, memutus jembatan utama. 28 KK terdampak dan butuh perbaikan tanggul segera.

Anleg Husen Mardjengi Dikepung Tagihan Janji di Sigenti Barat

Husen Mardjengi serap aspirasi di Sigenti Barat. Warga tagih perbaikan jalan sekolah, bibit durian, hingga ambulans desa dalam reses 2026.

Gaji Aparat Desa Macet, Legislator Moh Fadli Soroti Ketimpangan Program Nasional

Mohamad Fadli soroti macetnya gaji aparat desa & ketimpangan program Makan Bergizi Gratis di Desa Sigenti. Legislator PKS desak solusi cepat


See All
; ;