BMKG Sebut Gempa Cianjur Timbulkan Patahan Baru

waktu baca 2 menit
Ket Foto: Progres pembangunan hunian tetap (huntap) di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, atau yang berlokasi di belakang kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cianjur (Foto/ Facebook Badan Nasional Penanggulangan Bencana)

Berita nasional, gemasulawesi – Badan Meteorologi, Kliamatologi dan Geofisika (BMKG) sebutkan bahwa , Provinsi Jawa Barat menimbulkan patahan baru bernama .

Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis 8 Desember 2022.

“Berdasarkan hasil analisis mekanisme fokus dan mempertimbangkan posisi pusat gempa utama dan gempa susulan, dapat diketahui bahwa patahan pembangkit adalah patahan baru,” ucap Daryono.

Ia menjelaskan, berdasarkan analisis mekanisme pergerakan patahan dan pusat gempa utama dan gempa susulan, patahan mengarah ke N 347 derajat timur dan kemiringan (dip) 82,8 derajat dengan mekanisme geser menganan (dextral strike-slip).

Baca: Pemkot Palu Salurkan Bantuan Bagi Korban Gempa Cianjur

Ia mengatakan, BMKG merekomendasikan pemukiman seluas 8,09 kilometer persegi dengan sekitar 1.800 rumah di dalam zona bahaya patahan geser Cugenang, sebagian Talaga, Sarapad, Nagrak, dan Cibulakan agar direlokasi.

“Berdasarkan zona bahaya tersebut di atas, area yang terdokumentasi untuk direlokasi adalah seluas 8,09 km2 dengan hunian sekitar 1800 rumah yang terletak di dalam patahan geser Cugeang zona bahaya, meliputi sebagian besar Desa Talaga, Sarampad, Nagrak dan Cibulakan,” jelasnya.

Daryono mengatakan, zona bahaya adalah kawasan yang rentan terhadap pergeseran atau deformasi, getaran, dan kerusakan lahan dan juga bangunan.

Baca: Presiden Joko Widodo Pastikan Pembangunan Rumah Korban Gempa Cianjur Dimulai

Saat itu ia juga mengatakan bahwa merupakan jenis gempa tektonik dangkal.

Ia mengatakan hasil monitoring BMKG Hingga Kamis, 8 Desember 2022, pukul 12.00 WIB, telah terjadi 402 gempa susulan yang intensitasnya melemah secara fluktuatif dan semakin jarang terjadi. Magnitudo terbesar adalah 4,3 dan terkecil 1,0.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta agar zona yang direkomendasikan untuk direlokasi agar tidak dibangun untuk pemukiman.

Baca: Sebanyak 8.341 Rumah Korban Gempa Cianjur Akan Diperbaiki

“Zona berbahaya dikosongkan dari area pemukiman, tetapi dapat digunakan untuk tujuan non hunian, misalnya sawah, area resapan, konservasi, dihutankan, tapi jangan dibangun rumah lagi,” katanya. (*/Ikh)

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.