Dewan Pers Sebut Jurnalis Berperan Penting Cegah Paham Radikalisme

waktu baca 2 menit
Ket Foto: Plt Ketua Dewan Pers M Agung Dharmajaya (Foto/Facebook Dewan Pers)

Berita Sulawesi Tengah, gemasulawesi – menyebutkan wartawan atau perlu ikut terlibat, dalam berperan mencegah paham radikalisme berkembang ditengah masyarakat hingga menimbulkan aksi terorisme.

Hal itu diungkapkan Plt Ketua M Agung Dharmajaya pada kegiatan lokakarya peran pers pencegahan paham radikalisme dan terorisme guna mewujudkan Indonesia harmoni yang berlangsung di Palu, Jumat, 23 Desember 2022.

“Media tradisional harus melindungi kepentingan publik. Ketika mengetahui tentang radikalisme dan terorisme, media juga akan mengambil tindakan untuk mencegahnya,” ucap M Agung Dharmajaya.

Mengingatnya telah mengeluarkan pedoman pemberitaan terorisme, yang akan disosialisasikan mulai tahun 2023, oleh karena itu harus berhati-hati dalam melaporkan kasus terorisme, dalam artian tidak memberitakannya secara masif dan detail cara, bagaimana teroris menciptakan alat untuk meneror, seperti cara membuat bom.

Baca: Jenazah Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra Tiba Senin Malam

Oleh karena itu, wartawan dan wartawati bertanggung jawab untuk menyajikan berita yang berimbang, akurat, dan terpercaya, dengan mengutamakan kepentingan publik dan juga mengedukasi.

“Informasi boleh salah, tapi berita tidak boleh salah,” kata Agung.

Menurut , pedoman peliputan merupakan bagian penting dalam pencegahan radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Baca: Ketua Dewan Pers Prof Azyumardi Azra Tutup Usia

Terkait kerjasama melawan terorisme, katanya, perlu diperluas dan mencakup unsur-unsur dalam rangka pencegahan aksi radikalisme dan intoleransi, sehingga tidak hanya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai regulator dan aparat penegak hukum yang bertindak, tetapi juga peran pers dan masyarakat serta tokoh agama.

Mengenai pedoman peliputan terorisme, menurutnya harus memahami bahwa teroris adalah kejahatan luar biasa, sehingga harus mengutamakan kepentingan publik di atas segalanya.

“Wartawan tidak hanya perlu mengkhawatirkan kecepatan pengiriman berita, tetapi juga memperhatikan keakuratan dan, yang terpenting, memahami kasusnya. Jadi pastikan berita yang di tulis bukan berita bohong dan terkait dengan kode etik jurnalistik,” kata Agung. (Ikh/Dn)

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.