Dirut Bulog Sebut Stok Cadangan Beras Pemerintah Menipis

waktu baca 3 menit
Ket Foto: Pekerja Bulog sedang menata beras (Foto Ilustrasi/ Facebook Azwar PKU)

Berita Nasional, gemasulawesi – Direktur Utama (Dirut) Perum Budi Waseso mengatakan saat ini stok cadangan beras pemerintah , karena mengalami kendala dalam penyerapan beras di tingkat produsen. Ini karena ketersediaan yang terbatas dan harga jual yang tinggi.

Budi Waseso mengatakan Rabu 16 November 2022 dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta bahwa pihaknya kesulitan mendapatkan beras atau beras di tingkat petani karena terbatasnya pasokan di penggilingan.

Stok CBP di gudang kini mencapai 651.000 ton, meleset dari target 1,2 juta ton.

“Dari target yang di alokasikan, kami mengumpulkan semua penggilingan dari mitra kami. Apa yang sebelumnya disepakati bahwa kami dapat menyerap 500.000 ton pada Desember 2022 memiliki kontrak, tetapi hari ini kami hanya dapat menelan 92.000 ton dari target 500.000 ton,” ucap Budi Waseso.

Baca: Bulog Sulawesi Utara Pastikan Stok Minyak Goreng Hingga 2023

Budi Waseso atau yang lebih dikenal dengan Buwas mengatakan, penyebab kelangkaan beras atau gabah di tingkat petani adalah karena berkurangnya produksi.

Ia mengatakan, berdasarkan pantauan tim di lapangan, perubahan cuaca menyebabkan gagal panen di beberapa daerah sehingga menyebabkan stok cadangan beras pemerintah .

“Selain anomali cuaca, perlu kita waspadai bahwa hasil panen tidak bisa dipastikan mencerminkan fakta setempat, produktivitas gabah dipastikan akan menurun. Karena di beberapa daerah, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung juga tergenang air sawah yang akan dipanen sehingga mempengaruhi jumlah panen,” ucap Budi Waseso.

Baca: Stok Beras Bulog Sangihe Aman Hingga Enam Bulan Kedepan

Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi mengatakan, kenaikan harga beras atau gabah terus berlanjut sejak Juli 2022.

Kenaikan harga disebabkan oleh kenaikan biaya produksi akibat kenaikan harga pupuk serta kenaikan harga BBM.

Arief mengatakan sebelumnya membeli beras medium atau beras dari CBP dengan harga Rp 8.300 per kg di tingkat petani dan mudah didapat.

Baca: Bulog Telah Selesaikan Distribusi Bantuan Beras PKH

Sementara itu, menaikkan harga beli beras ukuran sedang menjadi Rp 8.800/kg, namun belum bisa membelinya karena petani baru ingin menjualnya dengan harga Rp 8.900/kg.

Selain itu, membeli beras komersial dengan harga lebih tinggi dan menurut harga pasar masih belum cukup untuk menutupi stok karena terbatasnya pasokan.

Akhirnya, kata Budi Waseso, harga beras komersial di tingkat petani mencapai Rp10.500 per kg atau bahkan Rp11.000 per kg.

Baca: Bulog Sebut Temuan Beras Bansos Rusak Disebabkan Cuaca Buruk

Badan Pangan Nasional telah menugaskan untuk menyerap hingga 1,2 juta ton gabah atau gabah untuk CBP pada akhir tahun 2022.

Budi Waseso mencontohkan target mencapai persediaan CBP hingga 1,2 juta ton pada akhir tahun 2022 dipastikan tidak akan tercapai jika kita hanya mengandalkan penyerapan dalam negeri karena keterbatasan pasokan akibat penurunan produksi.

Oleh karena itu, Budi Waseso mengatakan perlu alternatif untuk memenuhi stok CBP dari luar negeri alias impor yang harus segera dilakukan. (*/Ikh)

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.