Parigi moutong, gemasulawesi – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Parigi Moutong tak lagi puas hanya mengandalkan sumber pendapatan yang itu-itu saja. Lewat Bidang Pengembangan Potensi dan Evaluasi, otoritas fiskal daerah ini mulai memasang radar untuk menyisir sektor-sektor ekonomi yang selama ini luput dari pungutan.
Langkah ekspansif ini tertuang dalam Rancangan Akhir Rencana Strategis (Renstra) 2024-2026. Bapenda menyadari bahwa ketergantungan pada dana transfer pusat harus segera dipangkas dengan memperluas basis pajak dan retribusi di level lokal.
Menyisir Sektor yang Tak Terjamah
Dalam dokumen yang diperoleh, Bidang Pengembangan Potensi didapuk sebagai "tim pengintai" yang bertugas mengidentifikasi sumber-sumber penerimaan baru.
Baca Juga:
Pengesahan RUU Haji dan Umrah, Langkah Strategis Perkuat Layanan dan Kelembagaan
Fokusnya jelas: memetakan potensi ekonomi yang sedang tumbuh di masyarakat namun belum memiliki regulasi atau mekanisme pemungutan yang jelas.
"Bidang ini bertanggung jawab melakukan pengolahan data, penyusunan kebijakan teknis, hingga evaluasi terhadap potensi pendapatan daerah," sebut Kepala Bapenda Parigi Moutong, Moh Yasir.
Upaya ini bukan sekadar mengejar setoran, melainkan bagian dari diversifikasi agar struktur anggaran daerah tidak rapuh.
Inovasi di Tengah Keterbatasan
Bapenda Parigi Moutong didorong untuk lebih kreatif dalam menerjemahkan potensi menjadi realisasi PAD. Namun, perburuan potensi pajak baru ini dipastikan tidak akan berjalan serampangan.
Baca Juga:
Pemindahan Tahanan Makar Picu Ketegangan di Sorong, Polisi Kerahkan Ratusan Personel
Bapenda tetap diwajibkan melakukan kajian teknis agar pungutan baru nantinya tidak justru mencekik daya beli masyarakat atau menghambat investasi.
Sinergi dengan bidang pendaftaran dan penagihan menjadi kunci agar temuan potensi baru ini bisa segera dieksekusi menjadi ketetapan pajak resmi.
Bagi Parigi Moutong, penemuan satu sektor potensial baru bisa berarti tambahan modal untuk membangun jalan atau membiayai puskesmas.
Namun, tantangan sesungguhnya adalah akurasi data. Tanpa validasi yang kuat, perburuan potensi ini berisiko hanya menjadi rencana muluk di atas kertas.
Kini publik menunggu, sejauh mana Bidang Pengembangan Potensi mampu menyulap "lahan tidur" ekonomi di Bumi Khatulistiwa menjadi sumber cuan yang nyata bagi kas daerah.