Internasional, gemasulawesi – Seorang pemuda tewas pada hari Selasa pagi, tanggal 25 Maret 2025 waktu setempat, setelah pasukan pendudukan penjajah Israel menembaki sebuah toko komersial di Kota Qalqilya.
Sumber-sumber lokal mengonfirmasi bahwa Baraa Yousef Maskawi dibunuh oleh pasukan penjajah Israel di Qalqilya sebelum pasukan penjajah Israel menyita jasadnya.
“Warga lainnya terluka,” ujar sumber-sumber keamanan.
Pasukan khusus penjajah Israel yang disertai bala bantuan militer menyerbu kota dari pintu masuk timur dan utara, menyerbu lingkungan al-Naqqar dan mengepung sebuah toko komersial di bagian barat tempat pemuda yang terbunuh tersebut berada.
Mereka menuntut agar dia menyerah melalui pengeras suara.
Pasukan penjajah Israel melepaskan tembakan gencar ke toko yang terkepung diikuti dengan tembakan rudal Energa hingga Maskawi terbunuh dan kemudian jasadnya disita.
Maskawi diketahui adalah mantan tahanan yang dibebaskan akhir tahun lalu setelah sebelumnya menghabiskan 22 bulan di tahanan.
Selama penggerebekan tersebut dan juga penggunaan peluru tajam secara besar-besaran, seorang warga terluka di kaki oleh peluru tajam.
Baca Juga:
3 Masjid Dihancurkan dalam Serangan Udara Penjajah Israel di Khan Younis
Dia dipindahkan ke Rumah Sakit Pemerintah Darwish Nazzal di kota tersebut untuk menjalani perawatan. Cederanya digambarkan sebagai sadang.
Sementara itu, pemuda lainnya ditahan setelah terluka dan dibawa ke lokasi yang tidak diketahui.
Di sisi lain, PBB mengumumkan akan mengurangi jumlah tim internasionalnya di lapangan di Jalur Gaza setelah serangan baru di wilayah Palestina oleh pasukan penjajah Israel yang menewaskan ratusan warga sipil, termasuk personel PBB.
Stephan Dujarric, juru bicara PBB, menyampaikan dalam jumpa pers bahwa sekitar 30 dari sekitar 100 staf internasional PBB akan meninggalkan Jalur Gaza minggu ini.
Baca Juga:
Penjajah Israel Membajak Lahan Pertanian di Al-Farisiya Lembah Yordan Utara
Dia mengakui bahwa penarikan pasukan tersebut terjadi pada saat kebutuhan kemanusiaan meningkat dan kekhawatiran atas perlindungan warga sipil meningkat.
“Tindakan sementara itu merupakan keputusan sulit yang diambil oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, karena alasan keamanan dan operasional,” ungkapnya. (*/Mey)