Meresahkan! Kasus Eksploitasi Anak melalui Media Sosial Mencuat, Ini Sejumlah Akun Telegram Tempat Pelaku Beraksi yang Perlu Diwaspadai

Kasus dugaan eksploitasi anak melalui telegram di sejumlah akun ini berhasil dibongkar pihak kepolisian. (Foto/ilustrasi/pixabayKasus dugaan eksploitasi anak melalui telegram di sejumlah akun ini berhasil dibongkar pihak kepolisian.
Kasus dugaan eksploitasi anak melalui telegram di sejumlah akun ini berhasil dibongkar pihak kepolisian. (Foto/ilustrasi/pixabayKasus dugaan eksploitasi anak melalui telegram di sejumlah akun ini berhasil dibongkar pihak kepolisian. Source: Foto/ilustrasi/pixabay

Nasional, gemasulawesi - Kasus eksploitasi anak di media sosial telah mengejutkan publik setelah terungkapnya jaringan ilegal yang melibatkan beberapa tersangka. 

Kasus ini mendapatkan sorotan besar setelah Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil membongkar praktik eksploitasi anak yang dilakukan melalui platform media sosial seperti X dan Telegram.

Dalam kasus eksploitasi anak ini, polisi juga telah menetapkan beberapa orang sebagai tersangka.

Tersangka yang terlibat dalam jaringan ini terdiri dari MIR alias IM alias Sam (26), YM (26), MRP alias Alona alias Aline (39), dan CA alias Aul (19).

Baca Juga:
Heboh Dugaan Kesaksian Palsu Aep dan Dede dalam Kasus Pembunuhan Vina di Cirebon, Bareskrim Polri Lakukan Gelar Perkara

Dalam keterangannya, Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes. Pol. Dani Kustoni menjelaskan peran masing-masing tersangka dalam jaringan eksploitasi ini. 

Tersangka MIR bertanggung jawab mengelola berbagai akun media sosial yang digunakan untuk eksploitasi anak. 

Ia juga berkomunikasi dengan calon pelanggan, menentukan harga untuk talent, serta mengatur pembayaran dan distribusi keuntungan. 

Tersangka YM memiliki peran sebagai admin, yang mengelola akun Telegram, memperbarui data talent, menginformasikan katalog, serta menyediakan rekening untuk pembayaran.

Baca Juga:
Ludes! Kebakaran Hebat Melanda Gereja GST Agape Misitry Cisalak di Depok, Petugas Damkar Keluhkan Sulitnya Memadamkan Api Gara-Gara Ini

Sementara itu, tersangka MRP bertugas sebagai pencari dan penyedia talent, sedangkan CA berfungsi sebagai penyedia dan pembayar talent yang sudah melayani pelanggan. 

Akun-akun yang terlibat dalam kasus ini mencakup ALOW DEVILS (@PREMIUMPLACEOFC), LOVANA (@WEAGENPP5_), REBORN AGAIN (@CANWGKIR), dan beberapa lainnya di platform X. 

Di Telegram, akun-akun terkait termasuk CUSTOMOER SERVICE (@WeAgen_pp) dan CHANEL PREMIUM PLACE.

Dalam operasi ini, ditemukan bahwa harga untuk anak di bawah umur dalam jaringan eksploitasi tersebut berkisar antara Rp8 juta hingga Rp17 juta. 

Baca Juga:
Menyelami Keindahan Alam dari Kolam Dolli Bungaeja yang Tersembunyi di Tengah Sawah dan Pegunungan Karts Maros

Selain itu, tersangka juga membuka grup "hidden gem" dengan tarif yang mencapai ratusan juta rupiah untuk talent. 

Untuk bergabung dengan grup ini, calon anggota harus membayar deposit minimal sebesar Rp5 juta.

Tindakan ini jelas melanggar sejumlah undang-undang, seperti Pasal 45 Ayat (1) Jo Pasal 52 Ayat (1) Jo Pasal 27 Ayat (1) UU No. 1 Tahun 2024 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang ITE, Pasal 2 Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, serta Pasal 88 Jo Pasal 76 Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Bareskrim Polri menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini dan memastikan bahwa semua pelaku mendapatkan hukuman yang sesuai. 

Baca Juga:
Intiplah Dolphin Karimunjawa, Tempat Menginap Seru di Pulau Indah dengan Akses Langsung ke Aktivitas Snorkeling dan Pesona Laut yang Menakjubkan

Kasus ini menggambarkan betapa pentingnya pengawasan dan penegakan hukum yang ketat terhadap aktivitas ilegal di media sosial, serta perlunya perlindungan lebih lanjut untuk anak-anak dari berbagai bentuk eksploitasi. 

Penegakan hukum yang efektif diharapkan dapat mencegah kasus serupa di masa depan dan melindungi anak-anak dari bahaya eksploitasi di dunia maya. (*/Shofia)

...

Artikel Terkait

wave
Akui Beri Kesaksian Palsu, Dede Riswanto Siap Gantikan 7 Terpidana Kasus Pembunuhan Vina yang Kini Ditahan, Kuasa Hukum: Dia Merasa Berdosa

Dede, saksi kasus pembunuhan Vina, mengaku siap menggantikan hukuman yang kini sedang dijalani tujuh terpidana.

Usai Dibebaskan, Penyidikan Perkara Pegi Setiawan Kini Resmi Dihentikan, Kejati Ungkap Langkah Selanjutnya dalam Kasus Pembunuhan Vina

Kejaksaan Tinggi Jawa Barat resmi menghentikan penyidikan perkara terhadap Pegi Setiawan setelah menerima pemberitahuan dari Polda Jabar.

Diduga Lakukan Penganiayaan, Iptu Rudiana Dilaporkan Keluarga Terpidana Kasus Pembunuhan Vina di Cirebon ke Bareskrim Polri

Terpidana kasus pembunuhan Vina Cirebon, Hadi Saputra melaporkan Iptu Rudiana ke Bareskrim Polri atas dugaan penganiayaan.

Blak-blakan! Hotman Paris Beberkan Kondisi Keluarga Vina Usai Pegi Setiawan Dibebaskan, Akui Hanya Bisa Pasrah Karena Ini

Setelah Pegi Setiawan resmi dibebaskan, Hotman Paris mengungkap keluarga Vina kini hanya bisa pasrah, begini alasannya dari kacamata hukum.

Jadi Korban Salah Tangkap Tersangka Kasus Pembunuhan Vina, Kuasa Hukum Pegi Setiawan Tuntut Ganti Rugi ke Polda Jabar, Segini Nilainya

Resmi bebas, tim kuasa hukum Pegi Setiawan menuntut ganti rugi ke Polda Jabar usai jadi korban salah tangkap dalam kasus pembunuhan Vina.

Berita Terkini

wave

Sisa Anggaran Parigi Moutong Capai 41 Miliar, Bupati Sebut Terganjal Aturan Dana Pusat

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menyisakan anggaran 41 miliar rupiah di tengah kondisi jalur Lambunu Palapi yang rusak parah.

Parigi Moutong Genjot Layanan Medis, Stunting, hingga Infrastruktur

Pemda Parigi Moutong merombak anggaran untuk perbaiki fasilitas medis, atasi malaria, stunting, hingga tuntaskan anak putus sekolah.

DPRD Parigi Moutong Sindir Soal Jalan Rusak Yang Ditambal Polisi

Anggota DPRD Basuki kritik keras Pemkab Parigi Moutong akibat infrastruktur buruk hingga polisi harus turun tangan menambal jalan rusak.

Dana CSR Parigi Moutong Gelap, Anggota DPRD Usul Bentuk Pansus

Anggota DPRD Parigi Moutong Mohammad Fadli mengkritik keras tata kelola dana CSR perusahaan yang tidak transparan dan mengusulkan pansus.

Sengkarut Anggaran Parigi Moutong, Dana Non Kapitasi Puskesmas Palasa Belum Dibayar Sejak 2024

Pemda Parigi Moutong menunggak dana non kapitasi Puskesmas Palasa sejak 2024 hingga 2026. Pelayanan kesehatan masyarakat terganggu.


See All
; ;