Kementerian PUPR Sebut Longsor Amurang Bencana Geologi

waktu baca 2 menit
Foto/Istimewa

Berita Sulawesi Utara, gemasulawesi – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebutkan bencana longsor yang terjadi di Pantai Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, pada 15 Juni 2022 merupakan bencana geologi.

Akibat bencana Pantai Amurang, 34 rumah hilang, 11 rumah rusak berat, 64 rumah masih kritis, jembatan ambruk, jalan ambruk sepanjang 405 meter, dan beberapa fasilitas wisata, air minum, dan fasilitas umum lainnya rusak.

“Bencana alam longsor di pesisir Pantai Amurang merupakan bencana geologi berupa amblas atau longsoran massa daratan ke arah laut dengan bidang gelincir berbentuk rotasi,” ucap Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) I di bawah Kementerian PUPR, I Komang Sudana, Senin 15 Agustus 2022.

Kejadian ini, kata dia, menyebabkan keruntuhan dan rusaknya infrastruktur jalan, jembatan, rumah, fasilitas umum dan fasilitas sosial, namun tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini. Dia mengatakan, longsor tersebut menyebabkan penurunan elevasi kontur dasar laut.

Penurunan terdalam terjadi di muara Sungai Ranowangko (STA.0+200) yang semula Lower Low Water Level (LLWL) -0,08 meter menjadi -50,68 meter LLWL pada jarak sekitar 100 meter dari jembatan ambruk. Sumbu. Sebagai kesimpulan dari usulan teknis berikut, panjang lapangan longsoran adalah 477 meter dengan perpindahan daratan ke laut sebesar 2,34 juta m3.

Perosotan yang terbuat dari material batuan longsor bergerak lebih dari satu kilometer ke arah laut karena pantai yang curam.

“Dari hasil analisis data bathimetri diketahui volume material longsoran bahkan lebih kecil dari volume endapan sedimen di laut yaitu 2,62 juta m3. Hal ini disebabkan adanya sedimentasi pada periode 2012-2022 atau 10 tahun,” ucap Komang.

Penyebab bencana longsor Pantai Amurang berikutnya adalah kombinasi dari beberapa faktor yang terakumulasi dari waktu ke waktu. Diantaranya adalah litologi alam berupa endapan sedimen yang memiliki daya ikat lemah dan kohesivitas rendah.

Baca: LBH Manado Beberkan Kronologi Polisi Diduga Tembak Warga

“Artinya sampai hunian tetap (huntap) tersebut belum selesai, pemerintah akan terus menjamin logistiknya melalui dana APBD. Sementara anggaran kami terbatas, ”katanya.

Saat ini, kata dia, 114 kepala keluarga yang sebelumnya menempati berbagai tempat pengungsian, termasuk rumah kerabat, telah dipindahkan ke tempat hunian sementara.

Sebanyak 114 Kepala keluarga (KK) juga akan menempati hunian tetap yang akan dibangun pemerintah pusat setelah melalui proses verifikasi lanjutan.

“Mudah-mudahan pembangunannya bisa selesai secepatnya sehingga mereka bisa pindah dari hunian sementara ke hunian tetap,” harapnya. (*/Ikh)

Baca: Kasat Narkoba Karawang Ditangkap Edarkan Ratusan Gram Sabu

Ikuti Update Berita Terkini Gema Sulawesi di: Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.