Parigi Moutong, gemasulawesi - Belum hilang rasa duka dan trauma masyarakat atas tragedi di Gunung Nasalane, Desa Lobu, Kecamatan Moutong, yang merenggut nyawa pekerja akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), kini ancaman serupa kembali menghantui.
Ironisnya, aktivitas ilegal dengan intensitas tinggi kini justru berderu kencang di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo wilayah yang hanya terpaut puluhan kilometer dari Markas Komando (Mako) Polres Parigi Moutong.
Kehadiran alat-alat berat yang terus mengeruk isi bumi di Desa Buranga seolah menantang maut sekaligus hukum.
Baca Juga:
Maut di Lubang Emas Lobu: Menagih Tanggung Jawab Pengelola PETI atas Tewasnya Penambang
Lokasi ini seakan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja, mengulangi sejarah kelam longsoran tambang yang pernah terjadi di wilayah tersebut beberapa tahun silam.
Nasalane sebagai Peringatan yang Terabaikan
Tragedi di Gunung Nasalane seharusnya menjadi titik balik bagi penegakan hukum dan pengawasan lingkungan di Parigi Moutong.
Di sana, nyawa melayang di balik tumpukan tanah demi butiran emas. Namun, alih-alih menjadi pelajaran berharga, pola kerja berbahaya tersebut justru terlihat direplikasi di Buranga.
Baca Juga:
Emas Berdarah Parigi Moutong di Balik Bayang-Bayang Hukum
Pengamatan di lapangan menunjukkan intensitas alat berat dan mobilitas pekerja di Buranga meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Lubang-lubang galian menganga lebar tanpa sistem keamanan yang memadai. Tebing-tebing tanah yang rapuh berdiri tegak di atas kepala para pekerja, menunggu momentum curah hujan tinggi untuk luruh dan mengubur apa pun di bawahnya.
Kedekatan Geografis dan Ironi Penegakan Hukum
Masyarakat setempat mulai menyuarakan kekhawatiran mereka. Lokasi PETI Buranga yang relatif dekat dengan pusat pemerintahan dan keamanan di Parigi Moutong menimbulkan pertanyaan besar. Mengapa aktivitas dengan skala masif ini seolah berjalan tanpa hambatan?
"Kami takut kejadian di Nasalane atau kejadian Buranga beberapa tahun lalu terulang lagi. Ini jaraknya dekat sekali dengan kota, tapi kenapa seperti tidak tersentuh hukum?" ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Secara naratif, PETI bukan sekadar masalah ekonomi perut, melainkan masalah ekologi dan keselamatan jiwa yang sistemik. Setiap jengkal tanah yang dikeruk tanpa izin teknis adalah langkah mendekat menuju liang lahat.
Menanti Ketegasan Sebelum Nyawa Melayang Lagi
Kini, publik menunggu langkah nyata dari pihak kepolisian dan pemerintah daerah. Kehadiran Mako Polres Parigi Moutong yang secara geografis cukup dekat seharusnya memberikan rasa aman melalui tindakan preventif dan represif terhadap tambang ilegal.
Baca Juga:
Dugaan Dominasi Tambang Ilegal di Desa Tombi: Peran Haji Anjas dan Infrastruktur Talang Raksasa
Jangan sampai kita kembali disuguhi berita duka, evakuasi jenazah dari reruntuhan tanah, dan tangisan keluarga korban, baru kemudian tindakan tegas diambil. Buranga tidak boleh menjadi Nasalane berikutnya. Hukum harus hadir lebih cepat daripada longsoran tanah, dan keselamatan warga harus diletakkan di atas kepentingan segelintir pencari keuntungan di balik kemilau emas ilegal.
Masyarakat Parigi Moutong kini hanya bisa berharap, sebelum alarm bencana benar-benar berbunyi di Buranga, ada tangan besi yang mampu menghentikan mesin-mesin pengeruk maut tersebut. Sebab, satu nyawa yang melayang di lubang tambang adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar. (fan)