Internasional, gemasulawesi – Yair Golan, yang merupakan pemimpin oposisi penjajah Israel, pada hari Minggu, tanggal 15 September 2024, menyebut koalisi pemerintahan Perdana Menteri penjajah Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai ‘pemerintahan nol’ yang menyeret penjajah Israel ke dalam ‘perang tanpa akhir;.
Dalam pernyataannya di X, Yair Golan, yang memimpin Partai Buruh, menyerukan kepada warga penjajah Israel untuk mengadakan protes harian terhadap pemerintah penjajah Israel.
Yair Golan menambahkan hanya tekanan rakyat yang berkelanjutan yang akan menjatuhkan pemerintah ini.
“Alih-alih menutup medan pertempuran, pemerintahan nol ini malah menyeret kita ke dalam perang yang tidak berkesudahan, konflik internal yang tidak berkesudahan, dan jurang yang dalam,” ujarnya.
Partai Yesh Atid yang dipimpin oleh pemimpin oposisi Yair Lapid juga menyerukan pengunduran diri pemerintahan Netanyahu dan menyebutnya sebagai pemerintahan becanan nasional.
Di sisi lain, pada hari Sabtu, tanggal 14 September 2024, mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk warga Palestina di sebagian besar wilayah Jalur Gaza bagian utara, sebagai persiapan untuk menyerang wilayah itu dengan dalih roket Palestina yang ditembakkan ke penjajah Israel.
Juru bicara militer penjajah Israel, Avichay Adraee, pada media sosial X mengatakan kepada semua orang yang berada di wilayah Al-Manshiyya, Sheikh Zayed, dan Beit Lahiya di Jalur Gaza utara, tinggalkan rumah kalian,” katanya.
Menurut tentara, perintah evakuasi baru dikeluarkan dengan dalih bahwa faksi bersenjata Palestina meluncurkan roket ke penjajah Israel.
Dia menegaskan daerah yang ditunjuk itu dianggap sebagai zona pertempuran berbahaya dan pihaknya menegaskan bahwa evakuasi tidak mencakup fasilitas medis di daerah itu.
Baca Juga:
Kepala Militer Penjajah Israel Dilaporkan Berencana Mengundurkan Diri pada Bulan Desember
Sebelumnya pada hari tersebut, militer penjajah Israel menyampaikan 2 roket diluncurkan dari daerah kantong Palestina utara, dengan 1 jatuh ke laut dan lainnya dicegat di dekat Ashkelon di penjajah Israel selatan, tanpa ada korban luka yang dilaporkan. (*/Mey)