Memanas! Kasus Korupsi Tom Lembong Dituding Sarat Kepentingan Politik, DPR Desak Kejagung Transparan

DPR soroti profesionalisme Kejagung dalam kasus dugaan korupsi Tom Lembong.
DPR soroti profesionalisme Kejagung dalam kasus dugaan korupsi Tom Lembong. Source: Foto/Instagram @tomlembong

Nasional, gemasulawesi - Kasus dugaan korupsi impor gula yang melibatkan mantan Menteri Perdagangan RI periode 2015-2016, Tom Lembong, kini menjadi sorotan besar. 

Tom Lembong mendadak ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung), hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan terkait dengan proses hukum yang sedang berjalan. 

Keputusan Kejagung untuk menetapkan Lembong sebagai tersangka membuat banyak pihak, termasuk anggota DPR, merasa perlu memberikan pandangannya mengenai penanganan kasus ini.

Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, anggota dewan dari berbagai fraksi menyampaikan keprihatinan terkait proses hukum yang dijalankan oleh Kejagung. 

Baca Juga:
Diskusi dengan Menhan AS, Prabowo Beberkan Posisi Indonesia untuk Laut China Selatan, Begini Kata Presiden RI

Salah satu yang paling vokal mengkritik adalah anggota Komisi III dari Fraksi Gerindra, Muhammad Rahul. 

Rahul menyatakan bahwa Kejagung terkesan terburu-buru dalam menangani kasus Tom Lembong. Ia mengingatkan agar proses hukum dalam kasus ini dilakukan dengan transparan dan jelas. 

"Proses hukum yang terburu-buru bisa menciptakan opini negatif di publik. Jaksa Agung harus menjelaskan dengan detail bagaimana proses hukum ini dijalankan, supaya masyarakat tidak menganggap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menggunakan hukum sebagai alat politik," ujar Rahul dalam keterangannya pada Kamis, 14 November 2024.

Rahul juga menegaskan bahwa masyarakat sangat membutuhkan penjelasan yang lebih mendalam agar tidak ada kesalahpahaman. 

Baca Juga:
Soroti Kabar Gelar Doktor Bahlil Lahadalia Ditangguhkan, Rocky Gerung Sebut UI Membuat Keputusan yang Bijaksana

Menurutnya, pemerintah Indonesia harus tetap menjaga persatuan dengan menegakkan hukum secara adil tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik apapun.

"Indonesia memerlukan persatuan yang kuat, namun kita juga harus menjunjung tinggi tegaknya hukum," tambah Rahul.

Anggota Komisi III lainnya, Nasir Djamil dari Fraksi PKS, juga memberikan kritik yang tajam terhadap bukti-bukti yang disampaikan oleh Kejagung dalam kasus ini. 

Menurut Nasir, dalam hukum pidana, bukti yang digunakan haruslah sangat terang dan meyakinkan. 

Baca Juga:
Pj Gubernur Pastikan Kesiapan Jawa Barat Gelar Pilkada Serentak Tahun 2024

"Bukti dalam pidana itu harus lebih terang dari cahaya. Bangunan hukum ini sangat spesifik dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya. Jika bukti yang disampaikan masih lemah, maka proses hukum bisa dipertanyakan," ungkap Nasir. 

Ia menilai bahwa Kejagung terkesan tergesa-gesa dalam mengambil langkah-langkah besar seperti pemanggilan dan penahanan Tom Lembong tanpa memberikan penjelasan yang cukup mengenai bukti yang ada.

Lebih lanjut, Nasir juga menambahkan bahwa keputusan Kejagung untuk langsung menahan Tom Lembong menimbulkan spekulasi di kalangan publik yang dapat merusak citra Presiden Prabowo Subianto, yang selama ini dikenal berkomitmen untuk menegakkan hukum secara adil. 

"Keputusan untuk memanggil dan langsung menahan Tom Lembong menimbulkan berbagai spekulasi publik. Ini bisa mencederai citra Presiden Prabowo Subianto yang ingin memastikan bahwa hukum ditegakkan seadil-adilnya," jelas Nasir.

Baca Juga:
KPU Sigi Sampaikan Pilkada 2024 Sebagai Sarana Pemenuhan Hak-Hak Politik Masyarakat

Di sisi lain, anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan, turut menyuarakan kekhawatirannya mengenai penanganan kasus ini.

Menurut Hinca, banyak aspirasi yang diterima dari masyarakat yang menyatakan bahwa penanganan kasus Tom Lembong ini memiliki nuansa politik. 

Hinca mengatakan, "Kami banyak mendengar dari masyarakat bahwa kasus ini sarat dengan dugaan balas dendam politik. Ini sangat penting untuk disampaikan kepada publik. Kejagung harus menjelaskan dengan jelas agar spekulasi ini tidak berkembang lebih jauh." 

Hinca menegaskan bahwa penegakan hukum harus berjalan profesional tanpa ada intervensi politik, demi menjaga kepercayaan publik terhadap proses hukum di Indonesia.

Baca Juga:
Penjajah Israel Hancurkan Rumah Warga Palestina di Yerusalem Timur dan Hebron

Selain itu, Hinca juga mengingatkan bahwa spekulasi politik yang berkembang bisa merusak citra lembaga hukum di Indonesia, yang seharusnya bekerja berdasarkan prinsip independensi dan keadilan. 

"Proses hukum yang transparan dan berbasis bukti yang kuat akan menjamin bahwa penegakan hukum di Indonesia tetap berjalan dengan baik dan tidak disusupi oleh kepentingan politik tertentu," tambahnya.

Sementara itu, Kejaksaan Agung sendiri belum memberikan penjelasan rinci terkait dengan kritik-kritik yang disampaikan oleh anggota DPR. 

Namun, dari pernyataan yang ada, dapat dipahami bahwa Kejagung berkomitmen untuk mengungkapkan fakta-fakta terkait kasus ini dalam waktu yang tepat. 

Kejaksaan Agung juga menegaskan bahwa setiap langkah hukum yang diambil selalu berdasarkan prosedur hukum yang berlaku di Indonesia. (*/Shofia)

...

Artikel Terkait

wave

Perihal Mata Pelajaran Coding untuk Anak SD, Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti: Itu Bukan Hal Baru di Indonesia

Abdul Mu'ti selaku Mendikdasmen RI menjelaskan rencananya menerapkan mata pelajaran coding untuk anak SD, dimulai dari kelas 4

Diskusi dengan Menhan AS, Prabowo Beberkan Posisi Indonesia untuk Laut China Selatan, Begini Kata Presiden RI

Presiden RI Prabowo Subianto menerangkan posisi politik internasional Indonesia di Laut China Selatan usai bertemu dengan Menhan AS

Soroti Kabar Gelar Doktor Bahlil Lahadalia Ditangguhkan, Rocky Gerung Sebut UI Membuat Keputusan yang Bijaksana

Komentator politik, Rocky Gerung memberikan tanggapan terkait kabar UI yang menangguhkan kelulusan studi doktoral Bahlil Lahadalia

Komentari Layanan Lapor Mas Wapres Inisiasi Gibran Rakabuming, Mahfud MD: Itu Bagian dari Gimik Politik Saja

Mahfud MD baru-baru ini mengomentari layanan Lapor Mas Wapres yang dibuat oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka

Anak Mantan Kepala Bea Cukai Makassar Andhi Pramono Dapat Panggilan KPK, Begini Tujuan Pemanggilan Menurut Jubir

KPK panggil anak dari mantan Kepala Kantor Bea dan Cukai Makassar, Andhi Pramono, begini penjelasan jubir terkait pemanggilan tersebut

Berita Terkini

wave

Misteri Ongka: Mengapa Satu Tersangka Sabu "Menguap" dari SPDP Polda Sulteng?

Nama Robi tak tercantum dalam SPDP kasus sabu Parigi Moutong meski sempat diamankan bersama barang bukti. Pelepasannya oleh Ditresnarkoba

4 Pengedar Sabu Jaringan Parigi Moutong Ditangkap, Barang Bukti 26,62 Gram Disita

Polda Sulteng tangkap 4 pengedar sabu di 3 TKP Parigi Moutong. Total barang bukti 26,62 gram sabu disita dalam operasi 19 Juli 2026.

DPRD Parigi Moutong Desak Kementan Buka Kuota Saprodi Antisipasi Gagal Panen

DPRD Parigi Moutong mendesak Kementan buka transparansi kuota bantuan saprodi per kecamatan demi cegah gagal panen akibat ledakan hama weren

Anggota DPRD Parigi Moutong Kecam Manajemen Kedaruratan dan Kelalaian Administrasi Rujukan

Krisis pelayanan kesehatan Parigi Moutong memicu protes keras DPRD setelah kelalaian rujukan menyebabkan nyawa warga melayang sia sia.

DPRD Parigi Moutong Desak Transparansi Dana CSR Perusahaan Swasta Saat Ruang Fiskal Menyusut

DPRD Parigi Moutong bersiap membentuk Pansus untuk mengusut tata kelola dana CSR perusahaan swasta yang dinilai tidak transparan.


See All
; ;