Soal Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD yang Disampaikan Prabowo, Mendagri Tito Karnavian Setuju, Begini Alasannya

Potret Mendagri RI, Tito Karnavian yang baru-baru ini mengomentari wacana kepala daerah dipilih DPRD
Potret Mendagri RI, Tito Karnavian yang baru-baru ini mengomentari wacana kepala daerah dipilih DPRD Source: (Foto/Instagram/@titokarnavian)

Nasional, gemasulawesi - Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, menyatakan bahwa dirinya setuju terkait wacana pemilihan kepala daerah yang dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).

Wacana ini mencuat setelah disinggung oleh Presiden Prabowo pada 12 Desember 2024, dalam perayaan hari ulang tahun Partai Golkar.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyatakan bahwa sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD dinilai lebih efisien dibandingkan pemilihan langsung yang selama ini berlaku.

Presiden Prabowo menyoroti bahwa pemilihan kepala daerah oleh DPRD bisa memangkas anggaran biaya pilkada yang cukup tinggi.

Baca Juga:
Golkar Sebut Siap Terima Jokowi Usai Dipecat PDIP, Denny Siregar: Baguslah, Biar Berkumpul dengan Sesama Jenisnya

Menurutnya, efisiensi anggaran ini penting untuk mengurangi beban negara. Prabowo juga membandingkan sistem ini dengan negara-negara lain, seperti Malaysia, Singapura, dan India, yang menerapkan metode serupa.

Dengan adanya referensi dari negara-negara tersebut, ia menegaskan bahwa sistem ini bukan sesuatu yang asing dan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengatur mekanisme pemilihan kepala daerah di Indonesia.

Sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo, Mendagri Tito Karnavian menyampaikan dukungannya terhadap usulan tersebut.

Tito menegaskan bahwa besarnya anggaran yang dikeluarkan dalam pelaksanaan Pilkada Serentak 2024 menjadi salah satu alasan kuat untuk mengevaluasi sistem yang ada saat ini.

Baca Juga:
Soroti PDIP yang Resmi Umumkan Pemecatan Jokowi, Rocky Gerung Sebut Megawati Siap Berseteru dengan Joko Widodo

"Saya sependapat tentunya, kita melihat sendirilah bagaimana besarnya biaya untuk pilkada," ujar Tito Karnavian pada Senin, 16 Desember 2024.

Tito juga menambahkan bahwa dirinya sudah lama memiliki pandangan yang berbeda terkait pelaksanaan pilkada langsung.

"Dari dahulu saya katakan pilkada asimetris, salah satunya melalui DPRD," jelasnya.

Menurut Tito, sistem pemilihan melalui DPRD bisa menjadi alternatif dalam menciptakan efisiensi anggaran dan proses pemilihan yang lebih sederhana.

Baca Juga:
Siap-Siap! Pemerintah Bakal Beri Diskon Listrik 50 Persen Selama 2 Bulan Berturut-turut di Awal Tahun 2025, Ini Ketentuannya

Meski demikian, Tito menekankan bahwa usulan ini harus melalui kajian yang mendalam agar kebijakan yang dihasilkan tetap mempertimbangkan prinsip demokrasi dan kepentingan publik.

Tito menyatakan bahwa proses kajian perlu melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan kalangan akademikus.

Kajian yang komprehensif diperlukan untuk memastikan bahwa perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah ini tidak hanya dilandasi oleh efisiensi anggaran, tetapi juga mempertimbangkan stabilitas politik, keterwakilan rakyat, serta transparansi proses pemilihan.

Lebih lanjut, Tito memastikan bahwa usulan ini akan dibahas secara serius di bawah koordinasi Kementerian Dalam Negeri.

Baca Juga:
Umar Hasibuan Sebut Jokowi Terkena Post Power Syndrome Sejak Prabowo Jadi Presiden, Begini Alasannya

Mengingat aturan mengenai pemilihan kepala daerah telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas), diskusi dan kajian akan dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kebijakan yang matang, adil, dan berpihak pada masyarakat.

Setiap kebijakan publik, terutama yang menyangkut sistem demokrasi, harus didasarkan pada kajian yang mendalam dan melibatkan berbagai perspektif.

Langkah ini penting agar kebijakan yang diambil tidak hanya memperhatikan efisiensi, tetapi juga tetap menjaga prinsip-prinsip demokrasi serta menjamin hak-hak rakyat.

Dengan demikian, setiap perubahan kebijakan dapat membawa manfaat optimal dan berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat. (*/Risco)

...

Artikel Terkait

wave

Golkar Sebut Siap Terima Jokowi Usai Dipecat PDIP, Denny Siregar: Baguslah, Biar Berkumpul dengan Sesama Jenisnya

Denny Siregar memberikan komentarnya terkait kabar partai Golkar yang menyebut pihaknya siap menerima Jokowi usai dipecat dari PDIP

Soroti PDIP yang Resmi Umumkan Pemecatan Jokowi, Rocky Gerung Sebut Megawati Siap Berseteru dengan Joko Widodo

Begini komentar dari pengamat politik, Rocky Gerung terkait PDI Perjuangan yang resmi mengumumkan pemecatan Joko Widodo atau Jokowi

Siap-Siap! Pemerintah Bakal Beri Diskon Listrik 50 Persen Selama 2 Bulan Berturut-turut di Awal Tahun 2025, Ini Ketentuannya

Pemerintah Indonesia akan memberikan insentif besar bagi masyarakat pada awal tahun 2025. Begini cara mendapatkannya.

Umar Hasibuan Sebut Jokowi Terkena Post Power Syndrome Sejak Prabowo Jadi Presiden, Begini Alasannya

Pegiat medsos, Umar Hasibuan sebut Jokowi terkena post power syndrome karena masif aktif di dunia politik Indonesia usai pensiun

Sampaikan Kritikan ke Prabowo, Susi Pudjiastuti Sebut Menko Airlangga Tidak Benar Saat Tanggapi Kebijakan PPN

Susi Pudjiastuti mengomentari tanggapan Menko Airlangga terkait pebandingan pajak pertambahan nilai atau PPN di Vietnam dan Indonesia

Berita Terkini

wave

Misteri Ongka: Mengapa Satu Tersangka Sabu "Menguap" dari SPDP Polda Sulteng?

Nama Robi tak tercantum dalam SPDP kasus sabu Parigi Moutong meski sempat diamankan bersama barang bukti. Pelepasannya oleh Ditresnarkoba

4 Pengedar Sabu Jaringan Parigi Moutong Ditangkap, Barang Bukti 26,62 Gram Disita

Polda Sulteng tangkap 4 pengedar sabu di 3 TKP Parigi Moutong. Total barang bukti 26,62 gram sabu disita dalam operasi 19 Juli 2026.

DPRD Parigi Moutong Desak Kementan Buka Kuota Saprodi Antisipasi Gagal Panen

DPRD Parigi Moutong mendesak Kementan buka transparansi kuota bantuan saprodi per kecamatan demi cegah gagal panen akibat ledakan hama weren

Anggota DPRD Parigi Moutong Kecam Manajemen Kedaruratan dan Kelalaian Administrasi Rujukan

Krisis pelayanan kesehatan Parigi Moutong memicu protes keras DPRD setelah kelalaian rujukan menyebabkan nyawa warga melayang sia sia.

DPRD Parigi Moutong Desak Transparansi Dana CSR Perusahaan Swasta Saat Ruang Fiskal Menyusut

DPRD Parigi Moutong bersiap membentuk Pansus untuk mengusut tata kelola dana CSR perusahaan swasta yang dinilai tidak transparan.


See All
; ;