Soroti Kebijakan Pemerintah Soal Kenaikan PPN, Ganjar Pranowo Lempar Pertanyaan: Apakah Ini Sebuah Keadilan?

Potret politikus PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo yang mengomentari naiknya PPN di Indonesia
Potret politikus PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo yang mengomentari naiknya PPN di Indonesia Source: (Foto/Instagram/@ganjar_pranowo)

Nasional, gemasulawesi - Politikus PDIP sekaligus mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memberikan tanggapan terkait kebijakan pemerintah yang menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen.

Tanggapan tersebut disampaikan melalui sebuah video yang diunggah di channel YouTube resminya pada Rabu, 18 Desember 2024.

Dalam video itu, Ganjar menyoroti posisi Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan PPN tertinggi di kawasan ASEAN, sejajar dengan Filipina.

Namun, ia menekankan bahwa Indonesia bukanlah negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di kawasan tersebut, sehingga kenaikan PPN ini menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan.

Baca Juga:
Dituduh Flexing Naik Pesawat dan Helikopter, Politikus PDIP Deddy Sitorus: Bukan Pesawat Mewah Seperti Kaesang

Ganjar menjelaskan bahwa kenaikan PPN ini berpotensi menambah beban pengeluaran bagi masyarakat, terutama kelompok miskin, rentan miskin, dan kelas menengah.

Meski kebijakan ini dapat meningkatkan pendapatan negara, Ganjar menilai hal tersebut dapat memicu dampak negatif seperti penurunan konsumsi masyarakat, pengorbanan tabungan, hingga mendorong masyarakat untuk berhutang lebih banyak.

Dalam videonya, Ganjar melemparkan pertanyaan yang mengarah pada aspek keadilan dari kebijakan ini.

"Ini bukan menyalahkan, tapi hanya soal mengajukan pertanyaan, apakah ini sebuah keadilan?" tegas Ganjar Pranowo dalam videonya.

Baca Juga:
Dana CSR Bank Indonesia Diduga Disalahgunakan, KPK Temukan Fakta Mengejutkan dalam Penggeledahan

Ia juga merinci sejumlah kekhawatirannya terkait dampak kebijakan tersebut, mulai dari potensi kerapuhan ekonomi, meningkatnya serapan tenaga kerja informal, penurunan kelas menengah, menurunnya kapasitas masyarakat untuk menabung, hingga risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Kekhawatiran ini didasari oleh kemungkinan masyarakat kelas bawah menjadi pihak yang paling terdampak akibat kebijakan ini.

Ganjar menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan kondisi masyarakat di lapangan sebelum menerapkan kebijakan yang bersifat masif seperti kenaikan PPN ini.

Tidak hanya menyampaikan kritik dan kekhawatiran, Ganjar juga menawarkan sejumlah solusi yang menurutnya dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan pendapatan negara tanpa harus membebani masyarakat kelas bawah.

Baca Juga:
Guntur Romli Komentari Gibran Rakabuming yang Sebut Stefanus Gusma Dikeluarkan dari PDIP: Wapres Kok Bohong

Dalam pandangannya, pemerintah dapat mengadopsi langkah-langkah seperti menarik pajak kekayaan dari mereka yang memiliki aset besar, memberlakukan windfall tax pada sektor tambang dan kelapa sawit, serta menerapkan pajak karbon.

Solusi-solusi ini, menurut Ganjar, dapat menjadi sumber pendapatan negara yang lebih adil dan tidak menambah beban bagi masyarakat kecil.

Sebelumnya, pemerintah telah memastikan bahwa akan menaikkan PPN menjadi 12 persen akan mulai berlaku pada 1 Januari 2025.

Namun, langkah tersebut telah menuai beragam reaksi dari berbagai pihak, termasuk kritik yang menyoroti potensi dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Dengan berbagai pertimbangan yang disampaikan Ganjar Pranowo, wacana kenaikan PPN ini kembali menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan apakah kebijakan tersebut benar-benar sudah mempertimbangkan prinsip keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. (*/Risco)

...

Artikel Terkait

wave

Dituduh Flexing Naik Pesawat dan Helikopter, Politikus PDIP Deddy Sitorus: Bukan Pesawat Mewah Seperti Kaesang

Deddy Sitorus dituduh melakukan flexing atau pamer ketika naik pesawat hingga helikopter, begini klarifikasi dari politikus PDIP tersebut

Dana CSR Bank Indonesia Diduga Disalahgunakan, KPK Temukan Fakta Mengejutkan dalam Penggeledahan

KPK tetapkan dua tersangka korupsi dana CSR Bank Indonesia, bukti baru ditemukan dari penggeledahan kantor pusat BI.

Guntur Romli Komentari Gibran Rakabuming yang Sebut Stefanus Gusma Dikeluarkan dari PDIP: Wapres Kok Bohong

Guntur Romli sebut Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming berbohong saat sebut Stefanus Gusma dikeluarkan dari PDI Perjuangan

Tanggapi Kabar PDIP Pecat Jokowi, Adi Prayitno Sebut Joko Widodo Tak Bisa Ukur Kesaktian Jika Gabung Partai Lain

Pengamat politik, Adi Prayitno menyebut akan jadi hal menarik jika Jokowi membuat partai sendiri setelah resmi dipecat oleh PDI Perjuangan

Soroti Presiden Prabowo yang Minta Proyek Tol Baru Dihentikan, Said Didu: Rasional, Lebih Bagus Bangun Jalan Biasa

Pegiat medsos, Said Didu menilai perintah Presiden Prabowo untuk menghentikan sementara proyek tol baru adalah hal yang rasional

Berita Terkini

wave

Sajian Baru untuk Penggila Genre Laga Horor, Inilah Sinopsis Film They Will Kill You, Dibintangi Zazie Beets dari Deadpool 2

Zazie Beetz membintangi film laga horor They Will Kill You, yang menyajikan kisah menakutkan yang penuh dengan aksi yang mendebarkan

Inilah Sinopsis Film Greenland 2: Migration, Perjalanan yang Berbahaya setelah Bencana yang Mengakhiri Peradaban

Sekuel film Greenland, berjudul Greenland 2: Migration, akan tiba awal 2026 nanti, menceritakan kisah kehidupan setelah bencana

Membisu di Balik Deru Alat Berat: Teka-teki Bungkamnya Polres Parigi Moutong dalam Pusaran Tambang Ilegal Buranga

Kinerja Polres Parigi moutong tampaknya perlu dievaluasi berkaitan dengan keberadaan tambang ilegal buranga yang dinilai tak tersentuh hukum

Nasib Nyawa di Gunung Nasalane: Menanti Keadilan yang Belum Menyentuh Dg Aras

Hukum yang tak bertaring dihadapan pemodal tambang ilegal, hampir terjadi disemua titik PETI yang tersebar di Parigi moutong.

Tebalnya Tembok "Imunitas" Tambang Ilegal Buranga: Mengapa Hukum Tak Berdaya Dihadapan Reni?

Polres Parigi Moutong dinilai tak bertaring dihadapan Reni salah satu tokoh sentral dibalik beroperasinya tambang ilegal di Desa Buranga.


See All
; ;