MTI Pusat Sebut Hanya Presiden dan Wapres RI Saja yang Seharusnya Dapat Hak Patwal, Begini Alasannya

Ilustrasi lalu lintas jalan raya yang akan dilewati oleh rombongan patwal pejabat Indonesia
Ilustrasi lalu lintas jalan raya yang akan dilewati oleh rombongan patwal pejabat Indonesia Source: (Foto/Pixabay/@zdrsoft)

Nasional, gemasulawesi - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat melalui Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah, Djoko Setijowarno, memberikan saran agar hak utama patroli dan pengawalan (patwal) kendaraan diberikan hanya kepada Presiden dan Wakil Presiden RI. 

Menurut Djoko, kebijakan tersebut penting untuk diterapkan guna menciptakan keadilan di jalan raya dan mengurangi persepsi negatif masyarakat terhadap penggunaan patwal oleh pejabat negara lainnya.

Djoko menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta pada Senin, 27 Januari 2025, seraya merespons peristiwa viral sebelumnya terkait penggunaan patwal untuk mobil dinas RI 36.

"Untuk kendaraan pimpinan lembaga negara RI dikhususkan cukup untuk presiden dan wakil presiden," ujar Djoko.

Baca Juga:
Tidak Puas dengan Pemotongan Anggaran Kementerian, Denny Siregar Minta Prabowo Rampingkan Kabinet: Itu Bisa Menghemat

Ia menilai bahwa pejabat negara lain tidak memerlukan pengawalan seperti halnya presiden dan wakil presiden, terutama mengingat Jakarta yang sehari-hari sudah dipenuhi kemacetan lalu lintas. 

Penggunaan patwal yang berlebihan, menurutnya, dapat berdampak buruk bagi masyarakat pengguna jalan lainnya.

Djoko juga mengingatkan bahwa jalan yang dibangun dari pungutan pajak merupakan fasilitas umum yang seharusnya dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat.

Pengecualian hanya diberikan kepada kendaraan tertentu yang memang memiliki kekhususan sesuai Pasal 134 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

Baca Juga:
Tidak Setuju Kampus Kelola Tambang, Eko Kuntadhi Beri Cara Lain Agar Perguruan Tinggi Dapat Uang dari Tambang

Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar hak patwal diatur lebih ketat dan hanya digunakan sesuai dengan kebutuhan mendesak.

Selain itu, Djoko menyoroti perlunya pejabat negara untuk mulai membiasakan diri menggunakan transportasi umum.

Menurutnya, angkutan umum di Jakarta saat ini telah memberikan pelayanan yang memadai dengan cakupan mencapai 89,5 persen dari wilayah ibu kota.

Dengan mencoba transportasi umum minimal sekali dalam seminggu, pejabat negara dapat lebih memahami situasi yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

Baca Juga:
Mahfud MD Minta Menteri yang Terlibat Pembuatan HGU Laut Berani Bongkar Pelaku: Tak Perlu Menutupi Kasus

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pejabat negara memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.

Dengan membatasi penggunaan patwal dan memanfaatkan fasilitas transportasi umum, para pejabat dapat membantu menciptakan lingkungan jalan raya yang lebih adil sekaligus mendorong peningkatan kualitas angkutan umum yang lebih ramah dan efisien bagi masyarakat luas. (*/Risco)

...

Artikel Terkait

wave

Tidak Puas dengan Pemotongan Anggaran Kementerian, Denny Siregar Minta Prabowo Rampingkan Kabinet: Itu Bisa Menghemat

Denny Siregar sarankan agar Presiden Prabowo Subianto merampingkan kabinet Merah Putih guna mengurangi beban anggaran

Tidak Setuju Kampus Kelola Tambang, Eko Kuntadhi Beri Cara Lain Agar Perguruan Tinggi Dapat Uang dari Tambang

Pegiat medsos, Eko Kuntadhi menyampaikan pandangannya terkait wacana kampus atau perguruan tinggi mengelola tambang

Mahfud MD Minta Menteri yang Terlibat Pembuatan HGU Laut Berani Bongkar Pelaku: Tak Perlu Menutupi Kasus

Mahfud MD meminta para menteri yang kementeriannya terlibat pembuatan izin atau HGU laut untuk berani bongkar pelaku utama

Harga Minyakita Terus Melambung Jelang Ramadan, DPR RI Soroti Pemerintah yang Lamban Tanggapi Kenaikan Ini

DPR RI desak pemerintah turunkan harga Minyakita yang terus naik menjelang Ramadan untuk meringankan beban masyarakat.

Guntur Romli Puji TNI AL yang Sukses Bongkar 13 KM Lebih Pagar Laut di Tangerang: TNI Bersama Rakyat Kuat

Guntur Romli memberikan pujian kepada anggota TNI Angkatan Laut dan masyarakat yang ikut melakukan pembongkaran pagar laut di Tangerang

Berita Terkini

wave

Inilah Sinopsis Film Greenland 2: Migration, Perjalanan yang Berbahaya setelah Bencana yang Mengakhiri Peradaban

Sekuel film Greenland, berjudul Greenland 2: Migration, akan tiba awal 2026 nanti, menceritakan kisah kehidupan setelah bencana

Membisu di Balik Deru Alat Berat: Teka-teki Bungkamnya Polres Parigi Moutong dalam Pusaran Tambang Ilegal Buranga

Kinerja Polres Parigi moutong tampaknya perlu dievaluasi berkaitan dengan keberadaan tambang ilegal buranga yang dinilai tak tersentuh hukum

Nasib Nyawa di Gunung Nasalane: Menanti Keadilan yang Belum Menyentuh Dg Aras

Hukum yang tak bertaring dihadapan pemodal tambang ilegal, hampir terjadi disemua titik PETI yang tersebar di Parigi moutong.

Tebalnya Tembok "Imunitas" Tambang Ilegal Buranga: Mengapa Hukum Tak Berdaya Dihadapan Reni?

Polres Parigi Moutong dinilai tak bertaring dihadapan Reni salah satu tokoh sentral dibalik beroperasinya tambang ilegal di Desa Buranga.

Diduga Kebal Hukum, Kelompok Haji Anjas, Mustari dan Ahmad Geser Operasi Tambang Ilegal ke Desa Buranga

Dugaan kebal hukum pengelola PETI di Desa Buranga mencuat, seolah tidak perduli hukum aktifitas tambang ilegal Buranga tetap beroperasi.


See All
; ;