Lagi, Warga Olaya Keluhkan Imbas Tambang Emas Ilegal Kayuboko

waktu baca 6 menit
Klik Video: Kubangan di Tambang Emas Ilegal Desa Kayuboko Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, GemasulawesiPodcast)

Berita sulawesi tengah, gemasulawesi– Warga Desa Olaya kembali keluhkan imbas tambang emas ilegal di Desa Kayuboko Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Provinsi (Sulteng).

Pasalnya, warga di sekitar bantaran Sungai Olaya yang terdiri dari peternak dan nelayan, sudah tidak dapat lagi memanfaatkan fungsi sungai sebagai mata pencaharian.

“Sebelum adanya tambang emas ilegal di Desa Kayuboko Parimo , muara sungai menjadi salah satu tempat mata pencaharian warga,” ungkap Koordinator Aliansi Masyarakat Pesisir, Arifin Lamalindu, di kantor media Gemasulawesi, Senin 12 Oktober 2020.

Ia mengatakan, warga Desa Olaya yang berprofesi nelayan itu memiliki penghasilan dari tangkapan udang dan ikan teri atau dalam bahasa lokalnya “ ikan nike’ ”.

Selama ini, nelayan lokal Desa Olaya tidak perlu menangkap ikan hingga jauh dari pesisir pantai, cukup di muara sungai saja.

Baca juga: Dugaan Jatah Jergen Solar Oknum Polres dan Polsek, Kapolres Parimo Akan Pulbaket

“Namun, dengan kondisi muara sungai saat ini, hal itu mustahil nelayan dapatkan,” tegasnya.

Akibatnya, penghasilan nelayan jauh menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnnya.

Selain itu, peternak di Desa Olaya juga mengeluhkan kondisi sungai imbas tambang emas ilegal.

“Mereka sudah tidak dapat lagi membawa ternak mereka untuk minum dari Sungai Olaya,” terangnya.

Pasalnya, ternak setelah minum dari sungai itu langsung sakit hingga beberapa ternak ada yang mati.

Ia melanjutkan, banyak warga desa berprofesi nelayan dan ternak di sekitar Sungai Olaya. Semuanya mengeluh dengan kondisi itu.

Ia menyayangkan sikap dari sebagian orang di hulu atau di lokasi pertambangan emas ilegal Desa Kayuboko.

“Seharusnya mereka memikirkan dampak lingkungan dan ekonomi warga di hilir atau di sepanjang dan muara Sungai Olaya,” tuturnya.

Saat ini kata dia, kondisi nelayan imbas dari tambang emas illegal Desa Kayuboko sudah semakin parah. Apalagi, saat ini pandemi covid-19.

Ia melanjutkan, masih segar dalam ingatan warga terkait bencana banjir disertai lumpur beberapa waktu lalu.

“Banyak kerusakan yang diakibatkan pasca peristiwa saat itu. Itu terjadi setelah adanya tambang emas ilegal Desa Kayuboko,” tuturnya.

Imbas Aktivitas Tambang Ilegal Kayuboko, Warga Khawatir Banjir.

Banjir kerap melanda, warga keluhkan dampak dari aktivitas tambang di Desa kayuboko Kabupaten Parigi Moutong Provinsi (Sulteng).

“Saya sering didatangi keluarga-keluarga yang ada disini, untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami saat ini,” ungkap tokoh masyarakat Kecamatan Parigi Barat, Rahman Badja di lokasi banjir Desa Air Panas.

Ia mengatakan, di dusun satu Desa Air Panas ada puluhan rumah serta lokasi perkebunan warga yang terdampak banjir beberapa bulan lalu.

Bahkan, ada satu rumah warga hanyut terbawa banjir dan hingga kini warga itu masih tinggal di bawah tenda.

“Warga di dusun satu Desa Air Panas saat ini meminta perhatian dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah setempat,” urainya.

Menurutnya, warga saat ini sedang mengalami kesulitan ekonomi dampak dari tambang ilegal kayuboko.

Pasalnya, sumber kehidupan masyarakat setempat yang hanya mengandalkan penghasilan dari sektor perkebunan sudah tidak dapat diharapkan. Karena, tanaman yang ada di kebun mereka sudah mati akibat terdampak banjir.

“Jadi, tanaman mereka seperti, kakao, cengkeh, pohon kelapa, pisang dan lainya sudah layu, bahkan ada yang sudah mati,” ungkapnya.

Banjir yang kerap melanda Desa Kayuboko dan Air Panas lanjut dia, juga berdampak luas ke wilayah lainnya beberapa waktu lalu.

Ia melihat ada aktivitas penambangan emas tidak berizin yang nyaman beroperasi di wilayah itu.

Olehnya, warga sangat mengharapkan tanggungjawab dari pemerintah. Masyarakat sangat membutuhkan perhatian untuk memikirkan nasib mereka saat ini.

“Saya minta kepada pihak pengelola tambang yang ada diatas itu memperhatikan kondisi keselamatan masyarakat yang ada di hilir sungai ini. Mereka selalu merasa ketakutan jika sudah turun hujan,” tegasnya.

Mereka jadi susah tidur di malam hari, karena musibah tidak bisa diketahui dan kapan saja bisa terjadi,” tuturnya.

Ia menambahkan, banjir yang menerjang areal perkebunan dan pemukiman warga di Desa Air Panas Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong, beberapa waktu lalu, tak lepas dari aktivitas pertambangan liar yang ada di Desa Kayuboko.

Keluhkan Tambang Ilegal, Aliansi Masyarakat Pesisir Parimo Sambangi DPRD.

Aliansi Masyarakat Pesisir Parimo sambangi DPRD. Kedatangan mereka untuk menyampaikan keluhan adanya pencemaran dan kerusakan lingkungan di wilayahnya.

Kerusakan lingkungan itu, akibat dari adanya aktivitas tambang emas ilegal di Desa Kayuboko.

“Sebelum menyampaikan keluhan ke DPRD, kami telah meninjau langsung ke wilayah tambang ilegal itu,” tutur koordinator Aliansi Masyarakat Pesisir, Arifin Lamalindu.

Ia melanjutkan, dari penelusuran ke lapangan ditemukan adanya kerusakan dan kerugian yang dialami warga di beberapa tempat yang diakibatkan adanya aktivitas tambang emas ilegal.

Berikut hasil investigasinya. Pertama, aliran sungai di wilayah Desa Olaya setiap hari terlihat sangat keruh dan terdapat sedimen baru berupa lumpur yang tidak pernah jernih.

Kedua, rusaknya kebun dan pekarangan di sepanjang aliran sungai perbatasan Desa Air Panas dan Desa Kayuboko akibat luapan banjir yang bercampur lumpur tambang.

“Hasil investigasi kami yang ketiga adalah terdapat endapan lumpur dengan ketebalan antara 50-90 cm disepanjang pesisir pantai Desa Olaya, Desa Pombalowo yang diduga lumpur itu akibat limbah tambang ilegal,” terangnya.

Keempat, warga tidak dapat menafaatkan air sungai untuk kebutuhan mandi, cuci dan minum ternak akibat dari pencemaran air sungai.

Kelima, pengairan sawah sudah tidak bisa lagi dilakukan akibat dari pencemaran air sungai atau irigasi di Desa Pombalowo, Desa Kayuboko dan Desa Mertasari.

Keenam, pencemaran air sungai juga mengakibatkan berkurangnya produksi tambak udang dan ikan bandeng.

“Akibat limbah tambang ilegal yang bercampur dengan air sungai yang bermuara ke laut juga berdampak pada rusaknya terumbu karang dan biota laut di Desa Olaya, Pombalowo dan Boyantongo,” jelasnya.

Selain itu kata dia, juga berdampak pada matinya telur-telur ikan, udang, kepiting yang ada di sekitar pesisir pantai Desa Olaya hingga Boyantongo.

Kedelapan, penambangan pasir tradisional di Desa Olaya, Desa Pombalowo tidak dapat dilakukan. Akibat adanya tumpukan lumpur. Sehingga, industri kecil pembuatan Batako menjadi kesulitan bahan baku.

Kesembilan, warga nelayan di Desa Olaya, Desa Pombalowo dan Desa Boyantongo yang biasanya dapat memanen Ikan Teri yang melimpah. Namun, sejak adanya aktivitas tambang, jumlah ikan yang dipanen menurun. Bahkan, hasil itu berlangsung hingga tujuh bulan terakhir.

Kesepuluh, menurunnya produksi tanaman kelapa, kakao dan palawija yang diakibatkan adanya pencemaran debu tambang.

“Aktivitas tambang emas ilegal di Desa Kayuboko juga berimbas kepada, langkanya BBM jenis solar. Disinyalir adanya oknum yang menyelundupkan ke area pertambangan,” urainya.

Dengan adanya 11 hasil temuan di lapangan, maka pihaknya menuntut menghentikan kegiatan penambangan ilegal di seluruh wilayah Parimo, khususnya Kecamatan Parigi Barat.

Kemudian, kembalikan wilayah bekas area tambang ilegal sebagai hutan rakyat atau perkebunan rakyat yang digarap rakyat sendiri.

Berikutnya, rehabilitasi dan normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan sumber kehidupan bagi warga.

Selanjutnya, penertiban dan pengawasan secara ketat dan berkelanjutan khususnya dari pihak Kepolisian atas penjualan BBM bersubsidi ke wilayah tambang ilegal dan keluar wilayah Parigi Moutong yang dilakukan oknum tidak bertangungjawab.

“Jangan hanya kepentingan kelompok, mengorbankan kepentingan warga. Jangan ada korban nyawa lagi karena aktifitas tambang emas ilegal,” tuturnya.

Baca juga: Pukul Jurnalis, Organisasi Pers Palu Kecam Polisi

Laporan: Tim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.