Hadapi Krisis Pangan, Sulteng Dorong Sorgum Jadi Alternatif

waktu baca 2 menit
Ket Foto: Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulteng Nelson Metubun (Foto/Irfan/gemasulawesi)

Berita , gemasulawesi – Hadapi , Pemerintah Provinsi (Pemprov) (Sulteng) dorong petani untuk menanam komoditas sorgum sebagai alternatif pangan, seperti yang disampaikan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO).

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Sulteng Nelson Metubun ditemui di , Kamis, 17 November 2022.

“Sorgum, salah satu tanaman pangan utama, dapat dikembangkan di daerah ini untuk memperkuat pola makan daerah dan nasional,” ucap Nelson Metubun.

Ia menjelaskan, pengembangan komoditas tersebut saat ini sedang dilakukan oleh Pemprov Sulteng, dengan rencana luas sekitar 6.000 hektare di Donggala dan Kabupaten Sigi sebagai tahap awal guna hadapi .

Baca: Bawaslu Sulteng Dorong Pemilih Lokal Tolak Praktik Money Politik

Meskipun pemerintah mendorong budidaya tanaman pokok baru bagi petani di provinsi ini, tidak menutup kemungkinan untuk meningkatkan produksi padi dan jagung sebagai bahan pokok daerah.

“Ada kebutuhan untuk mengembangkan alternatif pangan seperti ini. Semakin banyak alternatif maka semakin beragam produk pangan. Sumber pangan tersebut berasal dari petani, maka pemerintah sebagai mitra mereka pasti akan memberikan pelayanan yang memadai kepada sektor pertanian,” kata Nelson.

Meski kantor TPH saat ini masih membawahi dua wilayah, menurutnya tidak menutup kemungkinan ke depan juga akan dilibatkan wilayah lain untuk kebutuhan perluasan pembangunan pabrik.

Baca: Petani Sulteng Didorong Tanam Cabai Atasi Inflasi

Nelson mengatakan, selain yang kami tangani secara langsung, ada juga pihak lain yang sudah menguji coba produk ini di Kabupaten Parigi Moutong dan Buol bahkan berhasil panen. Kami ingin gerakan seperti ini untuk memperkaya pertanian lokal.

Ia menambahkan beras tetap menjadi komoditas terpenting di daerah, dimana Sulteng memiliki surplus 90.000 hingga 125.000 ton beras setiap tahunnya, sehingga ketersediaan pangan setiap masyarakat dapat dikelola oleh daerah setempat.

“Pemerintah telah memajukan beberapa program untuk menjaga stabilitas pangan nasional dan daerah, antara lain pertanian dengan model indeks tanaman 400 (IP400), dan di bidang hortikultura ada program bernama desa industri pangan atau food estate, antara lain urban farming atau Pertanian perkotaan. Program-program itu sudah berjalan,” pungkas Nelson. (Dn)

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.