Lumajang, gemasulawesi – Aktivitas Gunung Semeru yang diketahui berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Malang, Provinsi Jawa Timur, terekam petugas mulai gempa letusan atau erupsi hingga gempa guguran pada hari Senin pagi periode pengamatan pukul 00.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, dalam keterangan tertulisnya hari ini, tanggal 15 Juli 2024, mengatakan berdasarkan pengamatan kegempaan, Gunung Semeru mengalami 31 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 19 hingga 22 mm.
Yadi Yuliandi menyampaikan lama gempa 82 hingga 138 detik.
Baca Juga:
8 Sasaran, Polrestabes Makassar Siap Menggelar Operasi Patuh pada 15 hingga 28 Juli
Gunung Semeru yang diketahui mempunyai ketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut atau mdpl itu juga mengalami 65 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 13 mm dan lama gempa 42 hingga 95 detik.
Dia mengatakan aktivitas Gunung Semeru juga terekam 3 kali gempa embusan dengan amplitudo 5 mm dan lama gempa 57 hingga 76 detik.
“Serta 1 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 532 mm, S-P 16 detik dan lama gempa 107 detik,” katanya.
Dikutip dari Antara, pengamatan secara visual, Gunung Semeru yang merupakan gunung paling tinggi di Pulau Jawa terlihat jelas.
Asap kawah tidak teramati, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat, serta cuaca cerah.
Sebelumnya, Hendra Gunawan, yang merupaka Kepala PVMBG, menyampaikan Gunung Semeru mengalami peningkatan kejadian erupsi dan juga guguran lava yang sewaktu-waktu berpotensi mengakibatkan terjadinya awan panas selama periode tanggal 23 hingga 30 Juni 2024.
Dia mengatakan aktivitas Gunung Semeru pada periode tersebut memperlihatkan aktivitas erupsi, awan panas dan juga guguran lava masih terjadi.
“Namun, secara visual jarang teramati dikarenakan cuaca berkabut,” ujarnya.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga akhir bulan Juni 2024, tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada level II atau siaga dengan rekomendasi yang disesuaikan dengan ancaman bahaya terkini.
Pihaknya memberikan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. (Antara)