Soal Kecurangan Distribusi MinyaKita, Puan Maharani Desak Hukuman Berat bagi Pelaku Tingkat Bawah Maupun Atas

Potret Ketua DPR RI, Puan Maharani yang baru-baru ini menyoroti kasus pelanggaran penjualan MinyaKita tak sesuai takaran
Potret Ketua DPR RI, Puan Maharani yang baru-baru ini menyoroti kasus pelanggaran penjualan MinyaKita tak sesuai takaran Source: (Foto/Instagram/@puanmaharaniri)

Nasional, gemasulawesi - Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap kasus kecurangan distribusi MinyaKita yang belakangan ini menjadi perhatian masyarakat.

Ia meminta agar para pelaku yang terbukti melakukan manipulasi dalam distribusi minyak goreng bersubsidi tersebut dijatuhi hukuman berat untuk memberikan efek jera.

"Hukuman berat bagi pelaku kecurangan takaran produk dan pemalsuan pangan juga harus dipastikan agar memberikan efek jera," kata Puan Maharani dalam keterangannya di Jakarta, Jumat 14 Maret 2025.

Puan menambahkan bahwa penegakan hukum yang adil harus mencakup semua pihak yang terlibat dalam skema manipulasi ini, baik di tingkat bawah maupun mereka yang memiliki pengaruh lebih besar di rantai distribusi.

Baca Juga:
Denny Siregar Kritisi Langkah Menko Airlangga yang akan Data Ormas Pengganggu Investasi, Dinilai Terlalu Lamban

Ia mengingatkan bahwa jika hanya pihak kecil yang dijerat, sementara aktor utama di balik praktik curang ini lolos dari jeratan hukum, maka keadilan tidak benar-benar ditegakkan.

"Jika hanya pelaku di tingkat bawah yang dijerat, sedangkan pihak yang lebih besar lolos dari tanggung jawab, maka keadilan tidak akan benar-benar ditegakkan," lanjutnya.

Menurut Puan, tindakan tegas harus diambil agar tidak ada lagi oknum yang memanfaatkan kelemahan sistem pengawasan demi keuntungan pribadi.

Puan menilai bahwa MinyaKita adalah program pemerintah yang bertujuan untuk menyediakan minyak goreng murah bagi masyarakat, sehingga segala bentuk kecurangan dalam distribusinya harus ditindak secara serius.

Baca Juga:
Fedi Nuril Ungkap Alasan Mengapa Dirinya Termasuk yang Khawatir Jika Pemerintah Kembali ke Zaman Orba

Puan juga mengingatkan bahwa selain merugikan secara ekonomi, peredaran MinyaKita palsu juga bisa berdampak buruk pada kesehatan masyarakat.

Produk palsu yang tidak memenuhi standar kualitas berisiko mengandung zat berbahaya atau tidak layak konsumsi, yang dapat membahayakan kesehatan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kasus ini harus menjadi pelajaran agar pengawasan produk pangan semakin diperketat dan tidak ada lagi penyalahgunaan yang merugikan rakyat.

Sebagai langkah konkret, Puan meminta Komisi IX DPR RI yang bermitra dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk aktif melakukan inspeksi dan pengawasan terhadap distribusi MinyaKita secara berkala.

Baca Juga:
Luhut Cari Regulasi yang Menghambat Investor Datang, Bivitri Susanti Nilai Korupsi Jadi Penghambat Sebenarnya

Dengan demikian, peredaran produk palsu dan manipulasi takaran bisa lebih cepat terdeteksi dan dicegah sebelum merugikan masyarakat luas.

Selain itu, ia juga mendesak Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan untuk segera merancang sistem pemantauan yang lebih transparan dan ketat.

Dengan adanya sistem yang lebih baik, setiap tahap dalam distribusi MinyaKita bisa diawasi dengan lebih efektif sehingga tidak ada lagi celah bagi oknum yang ingin memanfaatkan program ini demi keuntungan pribadi. (*/Risco)

...

Artikel Terkait

wave

Denny Siregar Kritisi Langkah Menko Airlangga yang akan Data Ormas Pengganggu Investasi, Dinilai Terlalu Lamban

Denny Siregar menyoroti langkah yang diambil Menko Airlangga untuk mengatasi aksi premanisme ormas yang belakangan ini jadi sorotan

Fedi Nuril Ungkap Alasan Mengapa Dirinya Termasuk yang Khawatir Jika Pemerintah Kembali ke Zaman Orba

Aktor Fedi Nuril menyampaikan alasan mengapa dirinya ikut khawatir jika pemerintah Indonesia akan kembali ke zaman orde baru

Luhut Cari Regulasi yang Menghambat Investor Datang, Bivitri Susanti Nilai Korupsi Jadi Penghambat Sebenarnya

Bivitri Susanti memberikan komentar terhadap rencana Luhut Binsar Pandjaitan yang ingin cari regulasi penghambat investasi

Ada 2 Daerah Belum Siap Gelar PSU Pilkada 2024 Karena Tak Punya Anggaran, Ketua KPU Yakin Kemendagri Bisa Fasilitasi

Begini keterangan dari ketua KPU Mochammad Afifuddin terkait dua daerah yang belum menyampaikan update anggaran untuk PSU Pilkada 2024

Soroti Kabar Mantan Kapolres Ngada Jadi Tersangka Kasus Asusila dan Narkoba, Politikus Demokrat: Sakit Orang Ini

Politikus Partai Demokrat, Jansen Sitindaon memberikan tanggapan mengenai kabar eks Kapolres Ngada yang terlibat kasus asusila dan narkoba

Berita Terkini

wave

Inilah Sinopsis Film Greenland 2: Migration, Perjalanan yang Berbahaya setelah Bencana yang Mengakhiri Peradaban

Sekuel film Greenland, berjudul Greenland 2: Migration, akan tiba awal 2026 nanti, menceritakan kisah kehidupan setelah bencana

Membisu di Balik Deru Alat Berat: Teka-teki Bungkamnya Polres Parigi Moutong dalam Pusaran Tambang Ilegal Buranga

Kinerja Polres Parigi moutong tampaknya perlu dievaluasi berkaitan dengan keberadaan tambang ilegal buranga yang dinilai tak tersentuh hukum

Nasib Nyawa di Gunung Nasalane: Menanti Keadilan yang Belum Menyentuh Dg Aras

Hukum yang tak bertaring dihadapan pemodal tambang ilegal, hampir terjadi disemua titik PETI yang tersebar di Parigi moutong.

Tebalnya Tembok "Imunitas" Tambang Ilegal Buranga: Mengapa Hukum Tak Berdaya Dihadapan Reni?

Polres Parigi Moutong dinilai tak bertaring dihadapan Reni salah satu tokoh sentral dibalik beroperasinya tambang ilegal di Desa Buranga.

Diduga Kebal Hukum, Kelompok Haji Anjas, Mustari dan Ahmad Geser Operasi Tambang Ilegal ke Desa Buranga

Dugaan kebal hukum pengelola PETI di Desa Buranga mencuat, seolah tidak perduli hukum aktifitas tambang ilegal Buranga tetap beroperasi.


See All
; ;