NTB, gemasulawesi - Penangkapan dua terduga teroris di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), oleh Densus 88 Antiteror Polri kembali mengungkap fakta baru mengenai aktivitas terorisme di wilayah tersebut.
Kedua tersangka yang ditangkap, berinisial LHM dan DW, ternyata memiliki peran yang sangat strategis dalam kelompok Jamaan Anshorut Daulah (JAD) Bima.
Operasi yang dilakukan ini berhasil menangkap kedua tersangka di dua lokasi berbeda.
Menurut Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago, peran LHM dan DW dalam kelompok teroris tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.
"LHM ternyata bukan sekadar anggota biasa, dia adalah Amir, atau pemimpin dalam kelompok JAD Bima," ungkap Erdi dalam keterangannya.
Sebagai Amir, LHM kerap memberikan khutbah Jumat dengan muatan radikal kepada anggota JAD dan masyarakat umum di wilayah tersebut.
Selain berperan sebagai pemimpin, LHM juga bertanggung jawab dalam mengerahkan anggotanya untuk mengikuti berbagai kegiatan fisik yang bersifat militan.
Ia aktif menggerakkan pelatihan ketangkasan fisik di beberapa lokasi strategis, termasuk Bima, Sumbawa Barat, dan Pulau Lombok.
Baca Juga:
Dugaan Pelanggaran Terkait Netralitas ASN Dilaporkan Diusut oleh Bawaslu Luwu Sulawesi Selatan
Kegiatan-kegiatan tersebut mencakup halaqo atau kajian agama yang memperkuat doktrin radikal di kalangan anggota JAD.
Di sisi lain, DW memainkan peran penting dalam proses kaderisasi kelompok.
Menurut penjelasan Erdi, DW bertugas melatih anggota baru, terutama dalam pelatihan fisik seperti bela diri dan renang laut.
Latihan ini ditujukan untuk memperkuat fisik para anggota guna mempersiapkan mereka menghadapi aksi-aksi teror yang mungkin dilakukan di masa depan.
Fakta baru lainnya yang diungkap oleh Polri adalah keterlibatan LHM dan DW dalam baiat massal kepada kelompok ISIS.
Baiat ini menjadi pintu masuk bagi keduanya untuk terlibat lebih dalam dalam kegiatan terorisme bersama JAD Bima.
"Keduanya sudah berbaiat kepada ISIS dan kemudian bergabung dengan JAD Bima, yang sudah lama menjadi jaringan radikal di wilayah NTB," tambah Erdi.
Penangkapan ini juga disertai dengan penyitaan sejumlah barang bukti penting.
Di antaranya adalah senapan angin dan 15 buku yang berisi ajaran-ajaran radikal.
Barang bukti ini diduga kuat menjadi sarana untuk mempengaruhi pemikiran anggota JAD dan masyarakat yang berada dalam jangkauan pengaruh kelompok tersebut.
Operasi ini merupakan salah satu bagian dari langkah Densus 88 Antiteror untuk terus membongkar jaringan teroris di wilayah Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang rawan radikalisasi seperti Nusa Tenggara Barat.
Dengan penangkapan ini, aparat berharap dapat mengurangi potensi ancaman dari kelompok radikal yang masih aktif merekrut dan melatih anggota baru. (*/Shofia)