Modus Isi Pulsa dan Token Listrik, Pemilik Konter di Jakarta Barat Jadi Korban Kloning WhatsApp Hingga Rugi Rp8 Juta, Begini Kronologinya

Seorang pemilik konter pulsa menjadi korban penipuan oleh konsumennya sendiri dengan modus kloning WhatsApp. Source: Foto/Tangkap layar Instagram @jakartabarat24jam

Jakarta Barat, gemasulawesi - Modus penipuan baru tengah viral setelah seorang pemilik konter pulsa di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menjadi korban kloning WhatsApp. 

Kasus ini mencuri perhatian publik karena pelaku penipuan itu berhasil meraup uang hingga Rp8 juta dengan metode yang cerdik dan mengesankan.

Hal ini dialami oleh Christian Kusuma, pemilik konter pulsa yang terletak di Jalan Raya Kelapa Dua, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk. 

Ia menjelaskan detail kronologi kejadian dan bagaimana pelaku malancarkan aksinya.

Baca Juga:
Terafiliasi dengan ISIS, Densus 88 Pastikan Penangkapan Terduga Teroris di Malang Tak Ada Kaitannya dengan Rencana Kunjungan Paus Fransiskus

Awalnya, seorang pria datang ke konternya dengan tampilan seperti pelanggan biasa yang ingin membeli pulsa dan token listrik. 

Setelah melakukan pengisian pulsa ke nomor telepon yang diberikan pelaku, masalah muncul ketika pelaku mengaku tidak mengetahui nomor token listrik yang diperlukan.

Pelaku meminta untuk membayar terlebih dahulu dan berjanji akan mengirimkan nomor token melalui WhatsApp. 

Tanpa curiga, Christian memberikan barcode WhatsApp konter untuk mempermudah komunikasi lebih lanjut. 

Baca Juga:
Ramai di Media Sosial! Oknum Polda Metro Jaya Diduga Lakukan Pengintilan hingga Terlibat Cekcok dengan Warga, Ternyata Ini Alasannya

Namun, pelaku tidak hanya memindai barcode tersebut. Alih-alih, ia menggunakan QR code untuk mengakses WhatsApp Web yang dirancang khusus untuk mengkloning akun WhatsApp Christian.

Dengan kloning WhatsApp, pelaku memperoleh akses penuh ke akun WhatsApp Christian. 

Hal ini memudahkan pelaku untuk membaca seluruh riwayat chat, termasuk percakapan terkait transaksi keuangan. 

“Bukannya discan (dipindai), mereka malah me-scan (memindai). Akibatnya, data-data seperti chat dan pembicaraan bisa berpindah. Para pelaku bisa mengetahui tuh chat dan pembicaraan tersebut, bahkan membalas chat karena menggunakan WA Web,” ungkap Christian.

Baca Juga:
Sempat Melarikan Diri! Pelaku Begal Motor yang Bawa Senjata Tajam Ditembak Mati Polisi di Serpong Tangerang Selatan, Begini Kronologinya

Pelaku kemudian memanfaatkan informasi tersebut untuk berpura-pura sebagai Christian dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait, meminta transfer uang dengan menggunakan gaya bahasa yang mirip dengan yang biasa digunakan Christian.

Christian dan karyawannya tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi korban penipuan hingga muncul transaksi mencurigakan. 

Ketika penyelidikan dilakukan, baru diketahui bahwa pelaku telah meniru komunikasi dan mendapatkan akses ke data penting konter.

Kasus ini menyoroti bagaimana teknologi dapat digunakan untuk penipuan yang sangat canggih. 

Baca Juga:
Diupayakan pada Semester 2 Nanti Dapat Terserap Optimal, Realisasi Distribusi Pupuk Subsidi Jenis Urea di Sulteng Sejak Januari hingga Juni Sekitar 25,7 Persen

Christian telah melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian, yang kini sedang menyelidiki kasus tersebut. 

Penyelidikan fokus pada mengidentifikasi pelaku dan mencegah modus serupa terjadi di masa depan.

Kasus ini mengingatkan kita akan pentingnya kehati-hatian dalam transaksi berbasis teknologi dan perlunya perlindungan yang lebih baik terhadap data pribadi. 

Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, kita dapat mengurangi risiko penipuan yang memanfaatkan kemajuan teknologi. 

Baca Juga:
Viral Dugaan Pungli Oknum Bendahara yang Potong Dana Tunjangan Sertifikasi Guru di SMAN 3 Kota Bumi Lampung Utara, Segini Besarannya

Di media sosial, beragam komentar pun bermunculan usai kejadiaan naas yang dialami Christian menjadi viral.

"Harap hati hati yang kaya gitu. Bisa liat di setelan wa. Ada yang sadap apa engga. Pengaturan pintasan," komentar akun @le***. (*/Shofia)

Bagikan: