Tak Permasalahkan Kebijakan Kenaikan PPN 12 Persen, Teddy Gusnaidi ke Warganet: Kalian Ngerti Gak Sih?

Tangkap layar video Teddy Gusnaidi sedang memberikan pandangannya terkait kebijakan kenaikan PPN 12 persen
Tangkap layar video Teddy Gusnaidi sedang memberikan pandangannya terkait kebijakan kenaikan PPN 12 persen Source: (Foto/Instagram/@teddgus)

Nasional, gemasulawesi - Politikus Partai Garda Republik Indonesia, Teddy Gusnaidi, memberikan pandangannya mengenai kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen.

Melalui cuitannya di akun X atau Twitter resminya, @TeddGus, pada Minggu, 22 Desember 2024, Teddy mengungkapkan bahwa ia tidak mempermasalahkan kebijakan tersebut.

Pernyataannya ini muncul setelah dirinya mendapat kecaman dari salah satu warganet yang mempertanyakan pandangannya terkait kenaikan PPN.

Menanggapi komentar tersebut, Teddy menegaskan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan PPN dianggapnya berlebihan.

Baca Juga:
Muncul Tagar untuk Dukung Kenaikan PPN 12 Persen, Fedi Nuril Curiga Pemerintah Keluarkan Anggaran untuk Bayar Buzzer

Ia membandingkan fakta bahwa selama 38 tahun PPN tidak mengalami perubahan tarif, tetapi harga-harga kebutuhan tetap fluktuatif.

"38 tahun PPN tidak pernah naik. Selama 38 tahun harga-harga silih berganti naik. Kenapa waktu PPN naik (kebijakan kenaikan PPN 12 persen) udah kayak mau kiamat? Kalian ngerti PPN gak sih?" tulis Teddy dalam cuitannya.

Perlu diketahui bahwa sistem PPN dengan tarif 10 persen pertama kali diterapkan pada tahun 1983 sesuai dengan UU Nomor 8 Tahun 1983, dan baru berubah menjadi 11 persen pada April 2022 melalui Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.

Kemudian, tarif PPN bakal kembali dinaikkan menjadi 12 persen pada awal tahun 2025 nanti.

Baca Juga:
Soal Jokowi Gabung Gerindra, Adi Prayitno Sebut Ada Hal Tak Bisa Dilakukan Joko Widodo Jika Masuk Partainya Prabowo

Dalam lanjutan cuitannya, Teddy tampak memahami kekhawatiran masyarakat terkait potensi kenaikan harga kebutuhan pokok yang dikaitkan dengan kenaikan tarif PPN.

Namun, menurutnya, kenaikan harga kebutuhan lebih disebabkan oleh kenaikan upah buruh, bukan tarif PPN.

Ia bahkan menantang masyarakat untuk meninjau ulang pandangan mereka mengenai kebijakan upah minimum.

"Upah buruh naik setiap tahun, dikarenakan upah buruh naik, harga (kebutuhan dan produk) ikutan naik, kenapa kalian nggak demo tolak kenaikan upah buruh?" tulis cuitan Teddy.

Baca Juga:
Denny Siregar Jelaskan Kesalahan Terbesar Pemerintahan Prabowo: Sibuk Politik Saja, Ekonomi Kedodoran

Pernyataan Teddy tersebut memicu perdebatan panas di media sosial. Beberapa warganet secara tegas membantah argumennya.

Salah satu pengguna dengan akun @imm*** mempertanyakan logika Teddy yang seolah menyalahkan kebijakan pemerintah dalam menetapkan upah minimum.

"Menurut anda (Teddy Gusnaidi) Pemerintah mengeluarkan UMP (upah minimum provinsi) setiap tahun itu hal yang salah ya?? Masyarakat harus demo klo UMP dikwluarkan Pemerintah, Gt kira2 mksd anda ya," tulisnya.

Pengguna lain dengan akun @sik*** menyebut argumen Teddy sebagai "logika gimmick yang mencengangkan," sedangkan akun @tek*** memberikan kritik tajam dengan menyatakan, "Bukan orang ekonomi jangan bicara ekonomi."

Baca Juga:
Denny Siregar Jelaskan Kesalahan Terbesar Pemerintahan Prabowo: Sibuk Politik Saja, Ekonomi Kedodoran

Perdebatan ini menjadi bagian dari semakin ramainya isu kenaikan PPN yang dibahas di media sosial. Isu ini memunculkan banyak pendapat yang berbeda, dari pihak yang mendukung hingga yang mengkritik tajam.

Media sosial pun dipenuhi diskusi sengit antara pengguna yang berusaha mencari penjelasan logis terhadap kebijakan pemerintah dan mereka yang menolak dengan lantang.

Polemik ini menunjukkan bagaimana isu ekonomi nasional dapat memantik reaksi yang luas di tengah masyarakat. (*/Risco)

...

Artikel Terkait

wave

Muncul Tagar untuk Dukung Kenaikan PPN 12 Persen, Fedi Nuril Curiga Pemerintah Keluarkan Anggaran untuk Bayar Buzzer

Fedi Nuril menyoroti munculnya hashtag atau tagar bernarasi dukungan terhadap kebijakan kenaikan PPN 12 persen yang baru-baru ini ramai

Soal Jokowi Gabung Gerindra, Adi Prayitno Sebut Ada Hal Tak Bisa Dilakukan Joko Widodo Jika Masuk Partainya Prabowo

Menurut Adi Prayitno, partai paling rasional untuk dipilih Jokowi adalah Gerindra, namun Jokowi tidak bisa jadi king maker di sana

Denny Siregar Jelaskan Kesalahan Terbesar Pemerintahan Prabowo: Sibuk Politik Saja, Ekonomi Kedodoran

Denny Siregar memberikan pandangannya terkait kesalahan terbesar di pemerintahan saat ini, menurutnya pemerintahan tidak punya prioritas

Rocky Gerung Soal Menko Airlangga yang Sebut Kenaikan PPN Bukan Keinginan Pemerintah Namun Amanah UU: Itu Konyol Itu

Rocky Gerung berika tanggapan terkait pernyataan Menko Airlangga Hartarto, mengenai kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai atau PPN

Susi Pudjiastuti Sentil Prabowo Usai Ada Warga Sumbawa Barat Menolak Pembebasan Lahan Karena Harga Tidak Sesuai

Susi Pudjiastuti meminta Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri untuk menyelesaikan masalah pembebasan lahan di Sumbawa Barat dengan bijak

Berita Terkini

wave

Misteri Ongka: Mengapa Satu Tersangka Sabu "Menguap" dari SPDP Polda Sulteng?

Nama Robi tak tercantum dalam SPDP kasus sabu Parigi Moutong meski sempat diamankan bersama barang bukti. Pelepasannya oleh Ditresnarkoba

4 Pengedar Sabu Jaringan Parigi Moutong Ditangkap, Barang Bukti 26,62 Gram Disita

Polda Sulteng tangkap 4 pengedar sabu di 3 TKP Parigi Moutong. Total barang bukti 26,62 gram sabu disita dalam operasi 19 Juli 2026.

DPRD Parigi Moutong Desak Kementan Buka Kuota Saprodi Antisipasi Gagal Panen

DPRD Parigi Moutong mendesak Kementan buka transparansi kuota bantuan saprodi per kecamatan demi cegah gagal panen akibat ledakan hama weren

Anggota DPRD Parigi Moutong Kecam Manajemen Kedaruratan dan Kelalaian Administrasi Rujukan

Krisis pelayanan kesehatan Parigi Moutong memicu protes keras DPRD setelah kelalaian rujukan menyebabkan nyawa warga melayang sia sia.

DPRD Parigi Moutong Desak Transparansi Dana CSR Perusahaan Swasta Saat Ruang Fiskal Menyusut

DPRD Parigi Moutong bersiap membentuk Pansus untuk mengusut tata kelola dana CSR perusahaan swasta yang dinilai tidak transparan.


See All
; ;