Rilis Daftar Alasan Jokowi Pantas Disebut Sebagai Koruptor, Politikus PSI Sebut YLBHI Sebar Omon-omon

Potret mantan Presiden Indonesia, Jokowi yang baru-baru ini jadi sorotan YLBHI
Potret mantan Presiden Indonesia, Jokowi yang baru-baru ini jadi sorotan YLBHI Source: (Foto/Instagram/@jokowi)

Nasional, gemasulawesi - Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, baru-baru ini membela mantan Presiden Indonesia ke-7, Joko Widodo, setelah namanya masuk dalam daftar tokoh terkorup versi lembaga Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP).

Diketahui sebelumnya bahwa ada perdebatan publik usai Jokowi yang muncul dalam daftar yang dirilis OCCRP.

Sebagian pihak menilai bahwa Jokowi tidak pantas masuk dalam daftar tersebut, sementara yang lain, termasuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), menyebut bahwa ada alasan kuat untuk memasukkannya.

Bahkan, YLBHI merilis daftar sepuluh faktor yang, menurut mereka, menjadikan Jokowi layak disebut sebagai koruptor.

Baca Juga:
Soroti KPK yang Tunggu Laporan Terkait Dugaan Korupsi Jokowi, Said Didu: Cari Bukti Informasi, Bukan Meminta

Menanggapi hal tersebut, Dedy Nur Palakka melalui akun X resminya, @DedynurPalakka, menyebut bahwa pernyataan YLBHI hanyalah omong kosong atau sekadar opini.

"Omon-omon alias OPINI silahkan saja YLBHI sebarkan informasi seperti ini," tulis Dedy sambil membagikan berita tentang rilis YLBHI itu.

Menurutnya, rakyat Indonesia tetap memiliki pandangan berbeda dan masih menganggap Jokowi sebagai bapak bangsa.

"Tapi rakyat tentu saja punya daftar alasan sendiri mengapa @jokowi adalah Bpk bangsa Indonesia yang kemanapun dia berdiri selalu ada Rakyat yang bersemangat bersamanya," lanjut Dedy dalam cuitannya.

Baca Juga:
Gugur Saat Selamatkan Wisatawan Tenggelam, Bripka Aditya Munartono Terima Kenaikan Pangkat Anumerta dari Kapolri

Selain itu, ia juga menyoroti bahwa OCCRP sendiri sudah memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut.

"OCCRP yang itu lembaga Internasional saja secara terbuka berani menulis klarifikasi kalau mereka tidak punya bukti kalau Jokowi korupsi," imbuhnya.

Cuitan Dedy Nur menuai beragam tanggapan dari warganet. Beberapa warganet tampak tidak sependapat dengannya.

Salah satu pengguna akun X, @abu***, menulis, ""rakyat" yg mana mas? Kasih batasan yg tegas! Saya asli Indonesia, bapak sy Sunda, ibuk saya wong Jowo. @jokowi jg asli Indonesia, tp dr dulu ndak pernah sekejap pun terlintas dlm benak sy, @jokowi itu bapak bangsa."

Baca Juga:
Adi Prayitno Sebut Keputusan MK Hapus Ambang Batas Calon Presiden Akan Jadi Hal Percuma Jika Parpol Lakukan Hal Ini

Ada juga warganet yang mengkritik gaya penulisan Dedy Nur, seperti yang diungkapkan oleh akun @ant***, "Apa yg dilakulan OCCRP adalah pendapat para Jurnalis Investigasi terhadap kadar korupsi kepala negara. Harusnya kau buat tulisan yg mencerdaskan buat membantah apa yg disampaikan OCCRP. Bukan cuap cuap bloon model gini."

Namun, tidak sedikit pula yang mendukung pernyataan Dedy Nur.

Salah satu akun, @kak***, menulis, "Mungkin saat ini YLBHI lg menyesali, setelah ada klarifikasi dari OCCRP, bahwa Jokowi tdk dipilih sbg pemimpin yg mlakukan corrupt dikarenakan TIDAK ditemukan BUKTI."

Perdebatan ini menunjukkan bahwa isu korupsi dan persepsi terhadap pemimpin nasional masih menjadi topik yang sangat sensitif di kalangan masyarakat Indonesia.

Klarifikasi yang diberikan oleh OCCRP diharapkan dapat meredakan polemik ini, meskipun perdebatan di media sosial tampaknya masih terus berlangsung. (*/Risco)

...

Artikel Terkait

wave

Soroti KPK yang Tunggu Laporan Terkait Dugaan Korupsi Jokowi, Said Didu: Cari Bukti Informasi, Bukan Meminta

Said Didu menyoroti KPK yang menyebut pihaknya menunggu laporan dari masyarakat terkait dugaan korupsi yang dilakukan oleh Jokowi

Gugur Saat Selamatkan Wisatawan Tenggelam, Bripka Aditya Munartono Terima Kenaikan Pangkat Anumerta dari Kapolri

Bripka Aditya meninggal saat menyelamatkan wisatawan tenggelam. Kapolri berikan kenaikan pangkat anumerta sebagai penghormatan.

Adi Prayitno Sebut Keputusan MK Hapus Ambang Batas Calon Presiden Akan Jadi Hal Percuma Jika Parpol Lakukan Hal Ini

Adi Prayitno menilai putusan MK menghapus ambang batas pencalonan presiden dan wakil presiden akan percuma jika partai politik lakukan ini

PBNU Singgung Kredibilitas OCCRP yang Rilis Daftar Tokoh Terkorup, Rocky Gerung: Makin Konyol Argumen Pendukung Jokowi

Rocky Gerung memberikan pandangannya usai Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf mempertanyakan kredibilitas OCCRP yang sebut Jokowi tokoh terkorup

Bongkar Kasus Korupsi PT Pembangunan Perumahan, KPK Sita Uang Rp62 Miliar, Ini Rincian Temuannya

KPK mengusut dugaan kerugian negara Rp80 miliar dalam kasus PT PP, dengan penyitaan uang Rp 62 miliar.

Berita Terkini

wave

Inilah Sinopsis Film Greenland 2: Migration, Perjalanan yang Berbahaya setelah Bencana yang Mengakhiri Peradaban

Sekuel film Greenland, berjudul Greenland 2: Migration, akan tiba awal 2026 nanti, menceritakan kisah kehidupan setelah bencana

Membisu di Balik Deru Alat Berat: Teka-teki Bungkamnya Polres Parigi Moutong dalam Pusaran Tambang Ilegal Buranga

Kinerja Polres Parigi moutong tampaknya perlu dievaluasi berkaitan dengan keberadaan tambang ilegal buranga yang dinilai tak tersentuh hukum

Nasib Nyawa di Gunung Nasalane: Menanti Keadilan yang Belum Menyentuh Dg Aras

Hukum yang tak bertaring dihadapan pemodal tambang ilegal, hampir terjadi disemua titik PETI yang tersebar di Parigi moutong.

Tebalnya Tembok "Imunitas" Tambang Ilegal Buranga: Mengapa Hukum Tak Berdaya Dihadapan Reni?

Polres Parigi Moutong dinilai tak bertaring dihadapan Reni salah satu tokoh sentral dibalik beroperasinya tambang ilegal di Desa Buranga.

Diduga Kebal Hukum, Kelompok Haji Anjas, Mustari dan Ahmad Geser Operasi Tambang Ilegal ke Desa Buranga

Dugaan kebal hukum pengelola PETI di Desa Buranga mencuat, seolah tidak perduli hukum aktifitas tambang ilegal Buranga tetap beroperasi.


See All
; ;