Nasional, gemasulawesi - Nasib apes menimpa seorang pensiunan berusia 75 tahun yang dikenal dengan inisial HS.
Ia mengalami kerugian finansial yang sangat besar, mencapai Rp1,2 miliar, akibat penipuan yang melibatkan modus berpura-pura sebagai petugas BPJS Kesehatan.
Kasus ini bermula ketika HS menerima telepon dari seseorang yang mengaku sebagai petugas BPJS beberapa waktu lalu.
Pelaku memberi tahu HS bahwa BPJS miliknya telah digunakan untuk transaksi obat-obatan terlarang.
"Korban pertama kali dihubungi oleh pelaku yang mengaku dari BPJS dan memberitahunya bahwa BPJS milik korban ada yang menggunakan untuk transaksi obat-obatan terlarang," ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, dikutip pada Minggu, 8 September 2024.
Mendapatkan informasi tersebut, HS menjadi sangat khawatir. Dalam keadaan panik, ia mengikuti arahan dari pelaku untuk mengganti PIN ATM-nya.
Tidak lama setelah itu, HS kembali dihubungi oleh individu lain yang mengaku sebagai polisi dari Bandung.
Orang ini mengklaim bahwa saldo rekening HS telah diambil oleh pihak yang tidak dikenal dan meminta HS untuk mengganti PIN ATM-nya sekali lagi.
Merasa tertekan dan percaya pada otoritas yang diklaim oleh pelaku, HS mengikuti instruksi tersebut.
Menurut Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi dari Polda Metro Jaya, setelah mengganti PIN, HS baru menyadari bahwa ia telah menjadi korban penipuan.
Pelaku lain yang berpura-pura sebagai petugas kepolisian dari Polwiltabes Bandung memberi tahu HS bahwa saldo di rekeningnya hilang karena dicuri.
Investigasi mengungkapkan bahwa pelaku berhasil mengakses dan menguras rekening HS di Bank CIMB Niaga dan rekening dolar, menyebabkan kerugian total sebesar Rp1.232.499.000.
Ade Ary menambahkan bahwa HS telah melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.
Saat ini, Polres Metro Jakarta Selatan menangani kasus ini untuk mengungkap pelaku dan berusaha mengembalikan dana yang hilang.
Kasus ini menyoroti bahaya penipuan yang semakin canggih dan mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap komunikasi yang mengaku dari lembaga resmi.
Verifikasi informasi dan keamanan data pribadi sangat penting untuk menghindari kerugian serupa di masa depan. (*/Shofia)