Internasional, gemasulawesi – Menurut laporan, 6 tentara penjajah Israel menggambarkan budaya ‘tembak dulu, tanya belakangan’ atau penembakan tanpa batas di dalam tentara penjajah Israel di Jalur Gaza, yang menyebabkan wanita, anak-anak dan rumah sakit, serta sekolah diserang tanpa hukuman.
Seorang tentara penjajah Israel yang diidentifikasi hanya sebagai A, mengatakan rasanya seperti permainan komputer, menggambarkan pengalamannya bekerja di ruang operasi.
“Sesekali, sebuah gedung runtuh dan perasaannya adalah ‘Wah, gila sekali, asyik sekali’,” ujarnya.
Sementara itu, prajurit lain, yang diidentifikasi hanya dengan nama M, menggambarkan penembakan sebagai ‘sangat tidak dibatasi’, bahkan ketika menembak dengan ‘senapan mesin, tank dan juga mortir’.
Di sisi lain, dalam serangkaian wawancara yang dilakukan dengan media Ibrani, seorang tawanan Rusia yang dibebaskan menggambarkan ketakutannya bahwa pengawal Hamas akan membunuhnya di Jalur Gaza.
Diketahui jika tawanan Rusia tersebut adalah Andrey Kozlov, yang dibebaskan pada awal Juni lalu, dan dia pindah ke penjajah Israel dari Rusia hanya 18 bulan sebelum tanggal 7 Oktober 2023 lalu.
Baca Juga:
Setelah Adanya Perintah Penjajah Israel, Evakuasi Mendesak Dilakukan Warga Palestina di Kota Gaza
“Dalam beberapa saat, saya yakin jika mereka menganggap kami melakukan pembunuhan dan juga memfilmkan proses ini,” katanya.
Dia menyatakan tujuannya hanya satu, yakni bertahan hidup dan pulang ke rumah.
Sementara itu, Pantai Zikim akan dibuka kembali untuk publik penjajah Israel untuk pertama kalinya sejak tanggal 7 Oktober 2023.
Otoritas penjajah Israel telah melakukan renovasi, termasuk dengan membangun tempat perlindungan bom.
Sekitar 20 tentara penjajah Israel akan ditempatkan secara permanen di Pantai Zikim saat dibuka kembali pada tanggal 1 Agustus 2023.
Selain itu, Pantai Zikim juga hanya akan dibuka pada siang hari.
Di sisi lain, Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina atau PRCS menyatakan bahwa 3 anak kecil terluka akibat pecahan peluru setelah militer penjajah Israel menyerbu kamp pengungsi Askar di sebelah timur Nablus, Tepi Barat.
Anak-anak tersebut berusia 13, 10 dan 9 tahun, dikabarkan mengalami benturan di kepala dan telah dibawa ke rumah sakit oleh petugas medis PRCS.
Kondisi mereka saat ini belum diketahui. (*/Mey)